DetikNews
Selasa 12 Desember 2017, 19:09 WIB

Penahanan Pejabat Keraton Surakarta Soal Lahan Sekaten Ditangguhkan

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Penahanan Pejabat Keraton Surakarta Soal Lahan Sekaten Ditangguhkan Kasatreskrim Polresta Surakarta Kompol Agus Puryadi (kiri) dan KGPH Benowo (kanan). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo - Polisi menangguhkan penahanan kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Benowo yang terlibat kasus penipuan dan penggelapan uang sewa lahan sekaten. Namun proses hukumnya kini terus berjalan.

Penangguhan telah dilakukan sejak hari Minggu (10/12). Alasan penangguhannya, antara lain disebutkan bahwa tersangka memiliki niat menyelesaikan persoalannya secara damai dengan para korban yang merugi.

"Karena tersangka sudah mengajukan permohonan penangguhan dan dia juga berniat melakukan mediasi dengan korban. Tersangka tidak akan efektif melakukan mediasi jika masih di dalam sel," kata Kasatreskrim Polresta Surakarta, Kompol Agus Puryadi di Mapolresta Surakarta, Selasa (12/12/2017).

Dia menjelaskan, penangguhan penahanan telah sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam KUHAP. Langkah polisi tersebut mengacu pada asas manfaat dalam KUHAP.

Meski demikian, proses hukum tetap berjalan lantaran kasus tersebut bukan merupakan delik aduan. Saat ini berkas penyidikan tersangka telah lengkap dan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Surakarta.

"Kasus tetap kita lanjutkan. Tinggal nanti hakim bisa membuat pertimbangan dengan adanya perdamaian atau mungkin pencabutan laporan oleh para korban," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pria yang menjabat sebagai Pengageng Pariwisata dan Museum di Keraton Kasunanan Surakarta itu diduga turut serta dalam penipuan dan penggelapan uang sewa lahan sekaten.

Benowo diketahui telah memberikan surat kuasa kepada tersangka lainnya, Robby Hendro Purnomo, untuk mengurus pedagang sekaten. Beberapa pedagang percaya dan membayarkan uang sewa kepada Robby.

Padahal lahan Alun-alun Lor yang biasa digunakan untuk sekaten, sebelumnya telah disewa Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta untuk Pasar Klewer darurat. Akibatnya pedagang dan pemilik wahana permainan tidak dapat beroperasi di alun-alun.

Benowo dijerat dengan pasal turut serta, Pasal 55 KUHP juncto pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 378 KUHP tentang penipuan. Sedangkan Robby dijerat dengan pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Benowo yang juga dihadirkan di Mapolresta Surakarta mengungkapkan permohonan maafnya kepada publik. Dia juga berjanji akan mengganti kerugian yang dialami para pedagang.

"Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu dan tidak akan menghilangkan barang bukti. Saya akan bersikap kooperatif dalam mengikuti proses hukum," kata Benowo.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed