Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Purworejo, Edy Purwanto (51) mengatakan bahwa sedikitnya ada 200 rumah terancam rusak akibat tanah bergerak tersebut. Ratusan rumah itu tersebar di 13 desa dalam 5 kecamatan.
"Jadi ada sekitar 13 desa dalam 5 kecamatan yang terdampak tanah bergerak tersebut. Terus untuk rumahnya ada sekitar 200-an KK atau rumah yang terancam rusak. Untuk yang di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing ini ada 11 rumah yang rusak berat," ucap Edy kepada detikcom ketika mendampingi tim PVMBG saat melakukan kajian tanah retak di desa itu, Senin (11/12/2017).
Edy menambahkan, akibat tanah bergerak tersebut lantai rumah, dinding, serta infrastruktur jalan menjadi rusak. Kerusakan bisa dikategorikan rusak ringan, sedang, hingga berat.
"Kerusakan bukan hanya terjadi pada rumah warga namun juga infra struktur jalan," imbuhnya.
Untuk tetap menjaga keselamatan warga, BPBD Kabupaten Purworejo pun berkonsentrasi pada tanah bergerak yang langsung berimbas ke pemukiman warga. Tim ahli pengkaji tanah retak dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Jawa Barat juga telah diterjunkan langsung ke lapangan.
"Kita memang sedang berkonsentrasi untuk penanganan tanah bergerak di area pemukiman warga karena ini menyangkut jiwa. Kemudian hasil kajian dari tim PVMBG tersebut nantinya yang akan menjadi dasar apakah warga akan direlokasi atau tidak," lanjut Edy.
Hujan diprediksi masih akan turun hingga bulan Januari 2018 nanti. Masyarakat pun dihimbau untuk tetap berhati-hati dan waspada terutama yang berada di daerah retakan tanah bergerak atau daerah rawan bencana lainnya.
"Kita sudah masang alat Early Warning System (EWS), jadi kalau alat itu bunyi warga diimbau agar segera mencari tempat yang lebih aman. Daerah sini kan tanahnya labil, jadi kalau ada hujan deras terus menerus sangat rawan, oleh karena itu warga harus tetap menjaga kewaspadaan," pungkasnya. (sip/sip)











































