DetikNews
Senin 11 Desember 2017, 14:49 WIB

PVMBG: Warga Terdampak Tanah Bergerak di Purworejo Harus Direlokasi

Rinto Heksantoro - detikNews
PVMBG: Warga Terdampak Tanah Bergerak di Purworejo Harus Direlokasi Rumah warga rusak akibat tanah bergerak di Purworejo. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Purworejo - Tim ahli pengkaji tanah retak dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bandung, Jawa Barat telah diterjunkan untuk meneliti penyebab terjadinya tanah bergerak yang melanda belasan desa di Purworejo, Jawa Tengah. Karena membahayakan, menurutnya warga diharuskan pindah rumah dan keluar dari zona rawan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua tim PVMBG, Anas Lutfi (59), ketika ditemui detikcom pasca penelitian tanah bergerak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing pada Senin (11/12/2017). Struktur tanah yang terus bergerak dikhawatirkan akan membahayakan warga setempat. Oleh karena itu warga yang terdampak diharuskan untuk pindah rumah atau direlokasi ke tempat yang lebih aman.

"Ya bahaya mas, ini kan bergerak terus tanahnya. Kalau Pemda punya anggaran ya warga harus direlokasi, terutama yang deket daerah sini, namanya daerah Crown atau ujung dari longsor," ungkap Anas.

Tim dari PVMBG Bandung meneliti tanah bergerak di Purworejo.Tim dari PVMBG Bandung meneliti tanah bergerak di Purworejo. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Anas melanjutkan daerah yang memiliki bukit yang terjal serta kemiringan tanah lebih dari 30 derajat merupakan ancaman tersendiri karena rawan terjadinya longsor dan tanah bergerak. Desa Donorejo salah satunya, terletak pada gugusan perbukitan menoreh yang memiliki ketinggian lebih dari 600 Mdpl, yang termasuk daerah rawan longsor maupun tanah bergerak.

"Di sini ketinggiannya sekiar 600 Mdpl dan kemiringannya lebih dari 30 derajat. Jadi ring inilah yang merupakan ring-ring rawan terjadinya longsor atau tanah bergerak," tuturnya.

Hasil penelitian tim dari PVMBG menunjukkan bahwa penyebab terjadinya tanah retak dan bergerak di daerah tersebut adalah curah hujan yang tinggi. Selain itu, struktur batuan di dalam tanah juga menjadi faktor lain terjadinya tanah bergerak yang terus aktif dan membahayakan.

"Penyebab pertama memang faktor keairan yang diberi curah hujan tinggi, kemudian faktor batuan. Jadi ini ada dua formasi batuan yang disebut formasi jonggrangan. Jadi di bawahnya ada lapisan batu lunak ada toof, ada batu pasir, batu lempung, nah itulah sebenarnya yang menjadikan tanah mudah bergerak," imbuhnya.

Salah seorang warga setempat yang rumahnya rusak parah akibat tanah bergerak, Saifurroman (43) menuturkan bahwa relokasi adalah pilihan terkhir jika memang harus dilakukan. Sementara, ia bersama keluarganya telah mengosongkan rumahnya dan mengungsi bersama warga lain di musala desa setempat.

"Ya kalau memang harus direlokasi ya mau gimana lagi, tapi kalau bisa jangan jauh-jauh dari sini lah," jawabnya singkat.

Hujan diprediksi masih akan turun hingga Januari 2018. Masyarakat pun diimbau tetap berhati-hati dan waspada, terutama yang berada di daerah retakan tanah bergerak atau daerah rawan bencana lainnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed