DetikNews
Senin 11 Desember 2017, 14:06 WIB

Kreatif, Tukang Tambal Ban di Semarang Ubah Limbah Jadi Karya Seni

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kreatif, Tukang Tambal Ban di Semarang Ubah Limbah Jadi Karya Seni Santoso, seniman ban bekas dari semarang (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang - Jiwa seni bisa dimiliki oleh siapapun termasuk Muhammad Santoso Rahawarin (48) yang kesehariannya berprofesi sebagai seorang tambal ban di Kota Semarang. Dia mampu mengubah limbah dari ban bekas karya seni yang bernilai ekonomis.

"Sekitar tahun 2014 lalu, saya lihat potongan-potongan kecil-kecil ban. Saya coba susun di ubin, kok jadinya bagus, bentuk pohon, orang," kata Santoso sembari mengutak-atik ban motor pelanggannya yang bocor saat ditemui di kios tambal bannya sekaligus rumahnya di Jalan Noroyono tepat di pinggir rel kereta daerah Kokrosono, Semarang, Senin (11/12/2017).

Seketika itu, ayah dua anak tersebut langsung berpikiran membuat lukisan wayang dari limbah ban. Dia membuat dengan ukuran 80 cm x 110 cm. Sudah 5 lukisan yang dibuatnya. Ternyata karyanya isengnya itu ada yang laku dengan harganya cukup tinggi.

"Bikin lukisan Gareng, Petruk, Bagong, Bima, Arjuna. Yang Bima sudah laku, lumayan, Rp 3 juta. Bukan saya yang kasih harga, yang beli sendiri," ujarnya.

Kreatif, Tukang Tambal Ban di Semarang Ubah Limbah Jadi Karya SeniSalah satu karya Santoso (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

November 2016, Santoso diundang oleh seniman limbah di Kota Lama Semarang. Di sana ia mendapatkan bimbingan dan ide agar membuat seni 3 dimensi dari ban dan diberi waktu 2 minggu.

"Saya mikir sambil melilit-lilit bekas ban di tangan, pelan-pelan, jadi bentuk kepala, coba lagi jadi bentuk badan, terus ada dop sisa, jadi kaki. Pertama kali itu bentuknya seperti penari pendet," katanya.

Meski hasil seni berupa figure dari ban itu berukuran kecil, ternyata pembimbingnya suka karena semua bahan dari limbah yang berhubungan dengan ban. Sejak saat itulah Santoso produktif membuat berbagai bentuk benda dari ban di sela kegiatannya tambal ban.

Belajar dari Seniman Amerika

Berbagai bentuk yang berhasil dibuat Santoso yaitu mulai dari macam-macam serangga, kendaraan, dan orang. Ukurannya kecil-kecil dan cukup laku di pameran seni dan beberapa orang atau pelanggan yang datang ke kiosnya. "Yang kecil-kecil ini sehari bisa bikin 25 buah. Bahan selalu ada, banyak," tandasnya.

Tidak hanya jadi pajangan, figure dari ban itu juga dijadikan gantungan kunci dan serutan pensil. Ia juga mencoba membuat figure berukuran sedang dengan tinggi sekitar 30 cm. Bahkan ada yang berbentuk motor yang bisa diubah menjadi robot seperti transformers. Ada juga kostum wayang gatotkaca dengan detail yang rinci.

"Favorit saya yang bentuknya seperti Son Goku dari kartun Dragon Ball ini. Ada yang mau beli enggak saya jual, hehe...," kata Santoso sambil memamerkan figure Son Goku dari ban.

Kreatif, Tukang Tambal Ban di Semarang Ubah Limbah Jadi Karya SeniKarya gantungan kunci (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Lelaki tamatan SMA ini sama sekali tidak memiliki latar belakang seni, baik di keluarga maupun lingkungannya. Santoso melakukannya secara otodidak. Namun sejak kecil ia memang suka mengutak-atik limbah apapun menjadi karya seni.

"Dulu daun kering saya ambil, saya kasih kata-kata mutiara, pasang. Gambar, lukis-lukis," ujarnya mengenang.

Kini ia terpacu untuk mengembangkan bakat seninya meski usia tak muda lagi. Santoso pun belajar agar seni ban bekasnya bisa makin bagus dan berharga. Belajarlah ia dari seniman Amerika yang juga membuat patung dari ban bekas. Hanya saja ia tidak bertemu langsung sang seniman, hanya browsing lewat google.

Kreatif, Tukang Tambal Ban di Semarang Ubah Limbah Jadi Karya SeniSantoso tetap melayani tambal ban. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom)

Insiparinya adalah seniman asal California, yakni Blake McFarland, yang membuat patung berukuran besar dari ban bekas. Santoso pun kini sedang mencoba membuat patung serigala. "Baru jadi kepalanya, disimpan di kardus. Dilanjut setelah pindahan," katanya.

Santoso dan anak istrinya memang harus meninggalkan kiosnya dalam waktu dekat jika uang ganti untung dari PT KAI sudah di tangan. Nantinya ia akan meninggalkan profesi tambal bannya dan konsentrasi ke seni ban bekas.

"Saya 25 tahun berkutat dengan ban. Dulu agen jual ban, jadi tambal ban tahun 2010, dan ini seni juga ban, semuanya berhubungan dengan ban," ujarnya.

Ia berharap masa tuanya bisa dihabiskan bersama keluarga dan berseni. Kini hasil karyanya juga mulai dikenal lewat pameran-pameran kesenian. Pembelinya pun tidak hanya dari Semarang namun beberapa daerah di Indonesia juga.
(alg/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed