Cerita Pengrajin Parsel di Jepara Kesulitan Dapatkan Rotan

Wikha Setiawan - detikNews
Kamis, 07 Des 2017 08:06 WIB
Pengrajin parsel di Jepara. Foto: Wikha Setiawan
Jepara - Pengusaha kerajinan parsel rotan di Kabupaten Jepara mengalami peningkatan permintaan menjelang Hari Natal tahun ini. Namun, mereka mengeluhkan minimnya bahan baku rotan.

Desa Teluk Wetan Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara menjadi sentra industri rotan. Lebih dari 80 persen warganya merupakan pengusaha dan perajin rotan, salah satunya adalah parsel.

Biasanya, peningkatan permintaan dipicu momen hari besar seperti Idul Fitri, Natal, Tahun Baru dan Imlek. Selain itu, juga karena harga buah turun atau murah.

Tohari (43), pengusaha parsel di Desa Teluk Wetan RT 18 RW 3 menuturkan bahwa menjelang Hari Raya Natal ini banyak permintaan parsel. Namun, justru bahan baku rotan sulit didapat.

"Bahan baku rotan mulai sulit didapat. Dulu, ada penyedia rotan, tapi sekarang orangnya sudah meninggal. Saat ini, masih ada tapi jumlahnya tidak banyak," ujarnya saat detikcom ke rumahnya, Rabu (6/12/2017)

Untuk pembuatan parsel membutuhkan rotan berukuran yang beragam. Yakni Mulai dari 2 mm, 2,5 mm sampai 2,7 mm.

"Yang bagus dan banyak dibuat produksi itu ukuran 2 mm. Tapi sulit didapat, kalaupun ada harganya mahal. Satu kilogramnya Rp 27 ribu," paparnya.

Untuk produksi 100 set parsel membutuhkan setidaknya satu bal rotan atau sekitar 50 kilogram rotan.

"Kalau menghitungnya begitu susah karena motifnya berbeda-beda. Satu parsel paling tidak tiga ukuran rotan yang beda," ucapnya.

Penyedia rotan di desanya mengambil dari Kalimantan. Mayoritas rotan yang mudah didapat sebagai bahan baku mebel seperti kursi, meja dan lainnya.

"Rotan untuk parsel sekarang sering kosong dan telat datang. Telatnya bisa berminggu-minggu," tutur Tohari.

Kondisi ini sangat disayangkan, karena dalam satu sampai dua minggu ia bisa memasarkan sampai 6.000 set parsel rotan. Di hari normal, biasanya hanya 1.000 sampai 2.000 set parsel.

"Satu set berisi tiga parsel. Parsel produksi dari sini sudah dipasarkan hampir di seluruh wilayah Jateng, sebagian Jatim dan Sumatra," lanjutnya.

Saat ini ia memiliki belasan perajin parsel. Empat di antaranya bekerja di gudang miliknya, dan sisanya menggarap di rumah masing-masing.

"Harapannya ketersediaan rotan dapat terpenuhi," harapnya.

Suhardi (42), pengusaha kerajinan parsel lain juga mengeluhkan minimnya bahan baku rotan. Kondisi ini sudah terjadi sekitat enam bulan terakhir. Selain minim, harga rotan parsel juga naik.

"Parsel di sini memang berbahan baku beragam. Ada yang hanya pakai kardus, bambu dan rotan. Tapi bahan baku rotan yang paling banyak, karena desa Teluk Wetan memang sentra kerajinan rotan," katanya.

Minimnya ketersediaan bahan baku rotan, menurutnua juga dipicu munculnya kerajinan berbahan baku rotan sintetis.

"Dulu, beberapa tahun lalu banyak yang menggunakan enceng gondok, sekarang mulai masuk rotan sintetis. Mungkin ini juga yang mempengaruhi rotan di sini," terangnya.

Hadi Prayitno (39) pengusaha parsel menambahkan, dirinya tidak lagi memproduksi parsel dari bahan baku rotan. Saat ini, ia hanya memproduksi parsel berbahan baku kardus.

"Hanya buat yang berbahan baku kardus karena lebih murah dan pasarannya susah dapat. Kalaupun menjual parsel rotan, saya biasanya mengambil dari pengrajin lain. Karena rotan memang harganya naik," jelasnya.

Sementara Sutrimo (45) penyedia rotan Desa Teluk Wetan RT 8 RW 1 menyampaikan bahwa kualitas bahan baku parsel memang paling rendah ketimbang rotan mebel. Namun, harga dari Kalimantan sudah tinggi sehingga penyedia rotan enggan mengambil dengan pertimbangan keuntungan rendah.

"Kalau untuk parsel memang susah karena dari sananya sudah mahal. 1 kilogramnya Rp 12 ribu sampai Rp 16 ribu," paparnya.

Rotan yang datang dari Kalimantan kemudian diolah kembali yang membutuhkan biaya produksi bertambah.

"Ada processing kembali. Jadi, kami tidak berani mengambil banyak karena keuntungannya sedikit," kata Sutrimo. (sip/sip)