Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono mengatakan selama tahun 2017 ini memang hanya 1 anak yang terindikasi Difteri, namun jumlah tersebut cukup untuk suatu daerah menetapkan KLB.
"Difteri 1 kasus itu tergolong KLB, beda dengan demam berdarah," kata Widoyono di kantornya, Jalan Pandanaran Semarang, Rabu (6/12/2017).
Satu anak yang terkena Difteri tersebut merupakan warga Semarang Timur berusia 10 tahun. Namun saat ini pasien tersebut sudah diperbolekan pulang setelah ditangani dokter.
"Sudah pulang, ini anak usia 10 tahun," pungkasnya.
Ia menjelaskan, sejak tahun 2010, hampir setiap tahun ada kasus penderita Difteri kecuali tahun 2015. Pada tahun 2010 ada 6 kasus, tahun 2011 ada 5 kasus, tahun 2012 ada 5 kasus, tahun 2013 ada 3 kasus, tahun 2014 ada 2 kasus, tahun 2016 ada 2 kasus, dan tahun ini ada 1 kasus.
"Pernah di tahun 2015 itu tidak ada kasus. Angkanya ada penurunan," tandas Widoyono.
Gejala yang muncul penderita Difteri, lanjut Widoyono, mirip flu biasa yaitu batuk, pilek, dan demam. Penularannya pun mudah sehingga orang-orang yang berinteraksi dengan penderita juga diobati untuk pencegahan.
"SOP kita terapkan. Ini memang agak kikrik (ketat), kalau 1 kena, diisolasi, yang pernah ketemu dia harus diberi obat, obat pencegahan," jelasnya.
Imunisasi terhadap bayi untuk pencegahan penyakit tersebut sudah dilakukan 100% di Kota Semarang, namun kondisi daya tahan tubuh kadang bisa membuat anak-anak terkena wabah tersebut meski kemungkinannya kecil.
"Masyarakat yang mengalami gejala seperti demam, batuk, pilek jangan anggap remeh. Segera periksakan, untuk memastikan tidak kena Difteri," tutup Widoyono. (alg/sip)











































