DetikNews
Rabu 06 Desember 2017, 15:00 WIB

Resepsi Pernikahan Malam-malam di Lawang Sewu Semarang, Seram Nggak?

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Resepsi Pernikahan Malam-malam di Lawang Sewu Semarang, Seram Nggak? Suasana resepsi pernikahan di Lawang Sewu Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya
Semarang - Mengukir sejarah hidup di tempat yang dikenal angker, itulah yang dilakukan pasangan pengantin yang satu ini. Mereka menyewa menyewa Lawang Sewu di Semarang untuk resepsi pernikahan.

Bukannya kesan angker yang terasa, ternyata suasana pernikahan justru terlihat mewah dan indah.

Suasana horor sama sekali tidak nampak di Lawang Sewu meski resepsi pernikahan pasangan Novira Daniaputri dan Kamal Yoga Sasono digelar malam hari. Resepsi digelar di halaman tengah kompleks Lawang Sewu dengan dekorasi pelaminan berlatar belakang gedung A.

Suasana resepsi pernikahan di Lawang Sewu Semarang.Suasana resepsi pernikahan di Lawang Sewu Semarang. Foto: Dok M Choesnul Lineartstudio

Detikcom berkesempatan hadir dalam pernikahan yang digelar hari Minggu (3/12/2017) malam lalu itu. Catering yang ditata apik dengan makanan khas Semarangan membuat para tamu betah. Kesan suram pun sirna dengan lampu warna-warni yang menyorot dari berbagai sudut.

Pengantin pria, Yoga menceritakan awalnya wedding organizer yang mereka sewa menyarankan lokasi dan salah satunya Lawang Sewu. Tanpa pikir panjang, Yoga menyetujui bangunan yang sudah ada sejak seabad lalu itu sebagai tempat kenangannya menggelar pernikahan bersama pasangan.

"Langsung setuju dan tertarik karena unik. Kami juga ingin memperlihatkan ke orang-orang kalau sekarang Lawang Sewu sudah nggak seram lagi, justru bagus banget," kata Yoga saat ditemui di Balai Kota Semarang, Rabu (6/12/2017).

Kekurangan menyewa Lawang Sewu untuk pernikahan adalah tempat parkir. Namun hal itu bisa diatasi karena tamu bermobil bisa parkir di Museum Mandala Bakti yang sama-sama berada di kawasan Tugu muda. Jika tamu terlalu lelah untuk berjalan, ada shuttle bus yang memang disiapkan Pemkot Semarang gratis setiap harinya dan bisa dimanfaatkan untuk menumpang dari museum ke Lawang Sewu.

"Saya pribadi juga menyiapkan shuttle bus untuk para tamu," imbuh pria yang bekerja sebagai PNS itu.

Suasana resepsi pernikahan di Lawang Sewu Semarang.Suasana resepsi pernikahan di Lawang Sewu Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya

Saat resepsi berlangsung, Yoga cukup yakin kalau hujan tidak akan turun dan ternyata terbukti cuaca cerah hingga acara selesai.

"Sing (yang) penting yakin," ujarnya sambil tertawa.

Yoga dan Novira pun puas bisa mengukir sejarah di bangunan khas Kota Semarang itu. Para wisatawan juga tetap bisa menjelajah gedung Lawang Sewu saat resepsi dimulai meski tidak bisa menjelajah halaman tengah.

Ternyata pasangan Yoga dan Novira bukan pengantin pertama yang menggelar acara pernikahan di sana. Setidaknya sudah ada 2 pasangan yang pernah menikah di sana dan masih ada lagi yang kini sedang mengurus untuk meenggelar pernikahan di Lawang Sewu pada bulan Desember ini.

Suasana resepsi pernikahan di Lawang Sewu Semarang.Suasana resepsi pernikahan di Lawang Sewu Semarang. Foto: Dok M Choesnul Lineartstudio


Kesan horor Lawang Sewu sudah berusaha dilenyapkan oleh pengelola yaitu PT Kereta Api Indonesia sejak tahun 2010 lalu. Berbagai renovasi dan pengecatan dilakukan tanpa merusak keaslian karena gedung tersebut masuk sebagai cagar budaya.

Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Edy Koeswoyo mengatakan tidak hanya resepsi pernikahan, acara-acara resmi termasuk dari pemerintahan sudah beberapa kali digelar di sana. Bahkan sering juga digunakan untuk foto prewedding.

"Sudah sering digunakan untuk umum, untuk acara resepsi, pemerintahan. Baik pagi, siang, atau sore sering juga ada foto prewedding," kata Edy.

"Mau siang, sore, malam tergantung permintaan, yang penting tidak mengganggu pengunjung lain," imbuhnya.

Untuk menyewa Lawang Sewu, lanjut Edy, bisa mengunjungi kantor pengelola di dalam Lawang Sewu dan nantinya akan diarahkan ke manajemen PT KAI Daop 4 Semarang.

"Untuk harga sesuai kegunaan, bisa ditanyakan langsung ke Lawang Sewu," tutur Edy.

Lawang Sewu merupakan peninggalan masa kependudukan Belanda dan awalnya digunakan untuk kantor Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Setelah Indonesia merdeka, gedung tersebut digunakan oleh Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT KAI.

Selama bertahun-tahun gedung itu dikenal sebagai tempat angker dan sering digunakan untuk kegiatan klenik. Namun sejak tahun 2010, lama-lama kesan tersebut hilang dan wisatawan semakin banyak yang datang karena Lawang Sewu menjadi kawasan indah penuh sejarah dan bahkan bisa digunakan untuk lokasi pernikahan.
(alg/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed