"Meski gempa VTA tidak tiap hari terjadi, tapi aktivitas kegempaan yang tercatat itu masih dalam kategori normal," kata Kepala BPPTKG DIY, I Gusti Made Agung Nandaka ketika dihubungi detikcom, Rabu (22/11).
Hasil pengamatan kegempaan, kurun waktu 10-16 November 2017 tercatat empat kali gempa vulkanik dalam dengan kedalaman antara 2.198 sampai 3.917 meter dari puncak. Lalu 28 kali gempa guguran (RF), dan 12 kali gempa tektonik (TT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu pada 15 November, terlihat asap berwarna putih tebal setinggi 100 meter dengan tekanan gas lemah, menuju arah barat laut. Sedangkan soal kondisi puncak Merapi yang belakangan ini kerap berkabut, hal itu tergolong wajar ketika masuk musim hujan.
Agung menambahkan, berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental tersebut, status Gunung Merapi saat ini masih pada level I atau normal. Erupsi yang terjadi pada Gunung Agung di Bali tak begitu berpengaruh terhadap Gunung Merapi. Karena pemicu erupsi di antaranya harus ada tekanan magma atau gas dari dalam perut gunung ke atas, serta terjadi gempa bumi di sekitar gunung yang menggoyang kantong magma.
"Jalur subduksinya memang sama antara Gunung Merapi dan Gunung Agung, tapi kecil kemungkinan aktivitas satu gunung memengaruhi gunung lainnya," jelasnya. (sip/sip)











































