Kepala Desa Suwidak Rip Santosa menyampaikan tanah gerak yang sudah terjadi 10 hari lalu hingga saat ini semakin meluas. Menurutnya, awalnya pergerakan tanah hanya 51 centimeter namun saat ini sudah mencapai 55 meter.
"Selain karena cuaca hujan, juga karena kondisi tanah di Desa Suwidak memang labil. Sehingga jika terjadi hujan lebat tanah di sini mudah bergerak," terangnya kepada detikcom melalui sambungan telpon, Rabu (22/11/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebun Salak milik warga rusak (Foto: Dok. Imam Suroto/RAPI Banjarnegara) |
Untuk total kerugian, Santoso mengaku belum menghitungnya. Namun akibat tanah gerak tersebut, warga yang tinggal di 4 dusun di Desa Suwidak harus memutar 2 kilometer untuk pergi ke sekolah maupun ke balai desa setempat. Padahal, sebelumnya untuk ke sekolah misalnya, hanya sekitar 600 meter.
"Karena itu jalan alternatif sehingga warga tidak sampai terisolir. Hanya sekarang mau tidak mau harus memutar termasuk anak sekolah," kata dia.
Namun demikian, ia tetap meminta warganya waspada. Sebab, meski titik tanah gerak berada di lahan perkebunan salak, namun jarak antara titik tanah gerak ke pemukiman hanya 100 meter. Terlebih di pemukiman juga ada tanah retak.
"Semuanya harus waspada, apalagi masih ada potensi hujan lebat, sehingga ancaman tanah gerak bertambah masih bisa terjadi. Ujungnya itu Sungai Merawu, jaraknya sekitar 900 meter dari pemukiman warga," jelas dia. (mbr/mbr)












































Kebun Salak milik warga rusak (Foto: Dok. Imam Suroto/RAPI Banjarnegara)