"Potensi lahar hujan kecil, material halus seperti debu dan pasir sudah berkurang karena faktor waktu dan guyuran hujan. Material bebatuan juga sudah mengendap," kata Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIY, Agus Budi Santoso saat dihubungi detikcom, Rabu (22/11/2017).
Menurutnya, ancaman banjir lahar hujan kalau material sisa erupsi melimpah sampai sungai dan merusak infrastruktur di sekelilingnya. Jika hanya banjir air sungai, itu masih tergolong bencana meteorologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Musim hujan ini potensi yang perlu diwaspadai gerakan tanah atau longsor karena tanah di puncak dan lereng Merapi tersusun dari sedimen bekas erupsi dan mudah bergerak jika curah hujan tinggi," jelasnya.
Sedangkan ancaman bagi permukiman penduduk cukup kecil karena sejak erupsi 2010, seluruh warga yang tinggal di radius 2 kilometer dari puncak direlokasi ke titik yang lebih aman.
Saat ini, BPPTKG memantau kondisi Gunung Merapi dengan berbagai cara. Di antaranya memasang alat ukur geodesi, alat ukur daya tampung sungai, dan pengamatan manual. Sekitar 11 kamera CCTV dan alat Early Warning System (EWS) juga dipasang di sungai dan lereng Merapi.
"Lokasinya menyebar, paling bawah di daerah Kali Boyong, Kali Kuning, dan daerah Prambanan," kata Agus. (sip/sip)











































