DetikNews
Kamis 16 November 2017, 08:16 WIB

Berkunjung ke Desa dengan Deretan Gazebo Cantik di Semarang

Eko Susanto - detikNews
Berkunjung ke Desa dengan Deretan Gazebo Cantik di Semarang Deretan gazebo di Desa Kemetul, Kabupaten Semarang. Foto: Eko Susanto
Semarang - Sebuah desa di Kabupaten Semarang memiliki jejeran gazebo yang mencuri perhatian. Mengusung ikon 1.000 gazebo, desa ini menyuguhkan pemandangan hamparan sawah yang memanjakan mata.

Terletak di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, pengunjung juga bisa menikmati kuliner pedesaan dan belajar bercocok tanam.

Desa Kemetul berada paling utara Kecamatan Susukan dan merupakan tapal batas antara Kecamakan Susukan serta Kecamatan Suruh. Kemudian, di desa ini juga ada dua sungai sebagai pembatas dengan memiliki potensi alam luar biasa dan kearifan lokal yang kental.

Desa Kemetul di Kabupaten Semarang menyajikan pemandangan persawahan.Desa Kemetul di Kabupaten Semarang menyajikan pemandangan persawahan. Foto: Eko Susanto
Untuk sampai di lokasi ini Desa Kemetul dari arah Semarang maupun Solo, setelah sampai Terminal Tingkir, pengunjung bisa menyusuri Jalan Suruh untuk sampai di lokasi.

"Awalnya Desa Kemetul mendapatkan program dari Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang sebagai salah satu desa wisata. Hal ini dengan melihat potensi alam yang ada, masih kental dengan kearifan lokal dan home industry," kata Agus Sudibyo, Kepala Desa Kemetul, Rabu (15/11/2017).

Hamparan sawah Desa Kemetul, Semarang yang bisa dinikmati sambil duduk-duduk di gazebo. Hamparan sawah Desa Kemetul, Semarang yang bisa dinikmati sambil duduk-duduk di gazebo. Foto: Eko Susanto

Dalam perkembangannya semenjak tahun 2012-2015 Desa Kemetul hanya sebatas aktif sebagai anggota dalam desa wisata. Kemudian, pada tahun 2016 dengan semangat dan ikhtiar secara swadaya masyarakat membangun gazebo untuk objek wisata.

Bangunan ganezo berjumlah 38 unit dibangun berjajar dan ditempatkan dekat dengan lahan persawahan. Bagi pengunjung yang datang bisa istirahat maupun sekadar duduk
sambil menikmati pemandangan alam lahan persawahan.

Untuk mendukung daya tarik dengan melibatkan para pemuda setempat membangun gardu pandang berbahan bambu setinggi sekitar 6 meter dan bangunan menyerupai bintang yang berada di tengah sawah.

Dengan cukup membeli tiket sebesar Rp 5.000 dan parkir Rp 2.000, pengunjung bisa swafoto sepuasnya di gardu pandang maupun bangunan menyerupai bintang yang berada di tengah lahan persawahan, tersebut.

"Kami sediakan lokasi untuk selfie bagi pengunjung dengan cukup membeli tiket Rp 5.000. Kemudian, setelah puas dengan selfie, pengunjung bisa mencicipi menu kuliner yang ada," ujarnya.

Gardu pandang dari bambu setinggi 6 meter. Gardu pandang dari bambu setinggi 6 meter. Foto: Eko Susanto
Di seberang gazebo ini, berjajar pula para penjual menjajakan menu kuliner ala pedesaan seperti nasi jagung, pecel, nasi goreng, minuman maupun menu lainnya. Soal harga jangan khawatir, sangat terjangkau.

"Ikhtiar mewujudkan desa wisata dilakukan dengan membentuk Pokdawis (Kelompok Sadar Wisata) dan menggerakkan kesadaran warga akan arti pariwisata serta pembuatan gazebo dan jembatan sebagai objek daya pikat pengunjung," kata Edi Sarwanto, salah satu tim kreatif Desa Wisata Kemetul.

Dalam perkembangannya, kata Edi, kemudian tim kreatif menyusun Paket Wisata Edukasi yang ditawarkan kepada pengunjung. Adapun paket wisata ini meliputi adventure dan wisata alam terdiri trabas, tracking sobo wono, jajah desa dan lainnya. Kemudian, paket edukasi dan home industry yang bisa mengunjung pembuatan marning, kerupuk kenthir, jamur tiram dan jamu.

Paket lainnya, kata dia, misalnya ada paket wisata belanja yakni mengajak wisatawan untuk menebang pohon, petik kopi dan petik salak. Ditawarkan pula paket dolanan tradisional dan paket wisata tahunan.

Jumlah gazebo di desa ini rencananya akan terus ditambah. Jumlah gazebo di desa ini rencananya akan terus ditambah. Foto: Eko Susanto

Kepala Desa, Agus menambahkan lokasi gazebo maupun gardu pandang yang tidak jauh dari kantor Desa Kemetul, lambat laun akan mengenalkan desanya kepada wisatawan. Untuk hari-hari biasa rata-rata ada sekitar 40-an motor dan pada Sabtu serta Minggu rata-rata 300-an.

"Dengan keberadaan desa wisata ini, perekonomian di masyarakat tumbuh. Nantinya, bersama warga kami akan membangun gazebo di tiap RT," kata Agus seraya menyebut ada 4 dusun dan 19 RT di wilayahnya.

Salah satu pengunjung Desa Wisata Kemetul, Aditya Pradana Putra mengaku, sangat kagum dengan keindahan alam di desa tersebut. Kemudian, menu kuliner ala pedesaan yang dijajakan harganya sangat terjangkau.

"Saya datang ke sini sama anak. Anak saya sangat senang sekali ketika bisa naik kerbau, terus menu kuliner yang khas seperti nasi jagung dan pecel," ujar Aditya asal Kota Semarang.

Di Desa Wisata Kemetul, kata Aditya, sangat cocok jika datang mengajak putra-putrinya. Hal ini karena di lokasi bisa langsung berinteraksi dengan para petani maupun belajar bercocok tanam padi.

"Pemandangan seperti ini jarang ditemukan, terlebih seperti saya yang tinggal di perkotaan sangat jarang bisa langsung bertatap muka dengan petani maupun sekadar mengajak anak melihat dan naik kerbau," ujarnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed