Purwati (58), warga Rt 1 Rw 1, Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori mengaku kondisi kotornya air PDAM tersebut telah terjadi setidaknya sejak sebulan terakhir. Warga pun terpaksa menggunakan air tersebut hanya untuk kebutuhan mandi cuci kakus (MCK).
"Kalau bau busuk memang tidak setiap hari, hanya kadang-kadang saja. Tapi kalau kotornya memang sepanjang hari," terangnya, Selasa (14/11/17).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Titin Pujiastuti (37), warga lainnya menilai kualitas air PDAM tak seiring dengan mahalnya harga yang harus dibayar warga. Padahal sebagian besar pelanggan di Kaliori dimasukkan golongan Rumah Tangga 3.
"Rumah tangga 3 itu kan kelasnya sama dengan perusahaan kecil. Padahal kebutuhan kami hanya untuk mandi dan mencuci. Sudah mahal, kotor lagi," keluh Titin.
Kepala Bagian Teknik pada PDAM Rembang, Suroso, menjelaskan penyebab keruhnya air suplai PDAM di daerah tersebut akibat endapan pada pipa jaringan pelanggan. Kondisi, menurutnya juga sering terjadi.
"Kekeruhan itu terjadi pada daerah-daerah tertentu. Itu terjadi karena endapan di pipa yang sudah lama. Ini bisa saja karena belum waktunya dilakukan pengurasan tapi sudah muncul laporan," jelasnya.
Ia memastikan, meski keruh dan berbau air suplai PDAM tersebut masih layak konsumsi. Sebab, berdasarkan hasil pemeriksaan tim lab PDAM, kadar air masih belum melebihi batas akhir normal.
"Dari tiga titik yang kitaa jadikan sampel, paling keruh terjadi di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. Tingkat kekeruhannya 4,62, sedangkan batas akhirnya 5, normalnya ya 0. Untuk bau mungkin itu kadar amoniak, yang kami ketahui berkisar 0,2," paparnya. (mbr/mbr)











































