Melihat Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 di Gunungkidul

Usman Hadi - detikNews
Jumat, 10 Nov 2017 11:31 WIB
Foto: Usman Hadi/detikcom
Gunungkidul - Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 sangat bersejarah bagi peristiwa perang kemerdekaan RI tahun 1949. Waktu itu ibukota RI berada di Yogyakarta.

Pasca agresi militer Belanda II, Presiden dan Wakil Presiden RI, Soekarno-Hatta ditangkap. Panglima Besar (pangsar) Jenderal memilih menyingkir dari Yogyakarta dan melanjutkan perjuangan bergerilya. Di Yogyakarta hanya Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Pengakuan pelaku sejarah BoediardjoPengakuan pelaku sejarah Boediardjo Foto: Usman Hadi/detikcom

Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dapat dipancarkan ke luar hingga Jakarta dan Sumatera melalui Stasiun Radio PHB AURI PC-2
di Dusun Banaran, Desa Playen, Kecamatan Playen, Gunungkidul. Selain itu juga melalui pemancar kecil yang dibangun Markas Besar Komando Djawa (MBKD) di Boro Kalibawang di perbukitan Menoreh, Kulon Progo.

Mengudaranya berita serangan serangan umum 1 Maret 1949 sangat berarti bagi perjuangan kala itu. Dengan tersiarnya berita tersebut akhirnya berhasil membuka mata dunia, bahwa RI masih berdiri seusai agresi militer II pada akhir Desember 1948.

Di monumen ini, selain menjulang monumen setinggi sekitar 5 meter, panjang sekitar 1,5 meter dan lebar sekitar 60 centimeter, di kompleks monumen juga terdapat rumah berbentuk limasan. Di dapur rumah inilah dulunya Stasiun Radio PHB AURI PC-2 menyiarkan berita.

Saat ini di dalam rumah ini terdapat sejumlah foto pejuang dan beberapa dokumentasi yang dipajang dalam sebuah pigura. Dokumentasi tersebut menjelaskan perjalanan Stasiun Radio PHB AURI PC-2 dan kiprahnya semasa perang kemerdekaan.

Seorang pengelola Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2, Sumarno (59) menjelaskan, dulunya stasiun radio ini adalah rumah warga setempat, milik Pawirosetomo. Saat agresi militer Belanda ke-II berlangsung kediamannya dijadikan markas pemancar oleh AURI.

"Sini dijadikan Stasiun Radio sejak Januari 1949. Penggagasnya adalah Kepala Perhubungan AURI saat itu, Opsir Udara III Boediardjo," kata Sumarno saat ditemui detikcom di kompleks monumen, Kamis (9/11/2017).

Dia menerangkan, saat dioperasikan dulunya peralatan stasiun radio disembunyikan di sebuah lubang di bagian dapur. Agar tidak diketahui tentara Belanda, lubang tersebut ditutupi anyaman bambu dan direntangkan beberapa batang pohon kelapa.

"Setiap pagi hari peralatan (stasiun radio) selalu disembunyikan, stasiun radio di sini dulu hanya dioperasikan malam hari saja. Makanya kalau pagi hari di tempat ini tidak ada tentara," paparnya.

Selain itu, untuk mengelabui pihak Belanda pemancar radio oleh pihak AURI dipasang di atas pohon kelapa yang berada di samping kediaman Pawirosetomo. Pemancar tersebut akhirnya luput dari pantauan Belanda, meski mereka tatkala itu melakukan agresi besar-besaran.

"Dulu di sekeliling sini banyak pohon kelapa tinggi-tinggi, sekeliling sini juga banyak pohon yang berdiri. Makanya pihak Belanda tidak tahu kalau di sini ada rumah yang dijadikan stasiun radio," katanya.
Salah satu ruangan di monumen stasiun radioSalah satu ruangan di monumen stasiun radio Foto: Usman Hadi/detikcom

Setelah agresi militer Belanda ke-II berakhir, kata Sumarno, peralatan Stasiun Radio PHB AURI PC-2 dipindah ke Kota Yogyakarta. Untuk mengenang tempat ini, kemudian dibangun monumen yang diresmikan langsung oleh Gubernur DIY kala itu, Sri Sultan HB IX di tahun 1984.

"Nah, waktu diresmikan sama HB IX, dulu beliau bertanya ke warga sini setelah dibangun monumen warga (Banaran) minta apa, lalu warga minta dibangunkan sekolah. Makanya sama pemerintah dibangun TK 1 Maret persis di depan monumen," akunya.

Walaupun monumen ini berada jauh di pusat Kota Yogyakarta, menurut Sumarno sampai sekarang banyak wisatawan yang berkunjung ke monumen ini. Bahkan tiap Hari Minggu masih banyak pelajar dari dalam dan luar DIY berkunjung ke monumen tersebut.

"Kemarin ada pelajar dari Klaten ke sini menemui saya. Bilang mau mengambil gambar katanya buat dibikin film tugas sekolah. Juga sering taruna AAU berkunjung ke sini, bahkan sesekali melakukan serasehan di sini," pungkasnya. (bgs/bgs)