Bercengkrama dengan Mbah Thohir, Veteran Agresi Belanda di Magelang

Bercengkrama dengan Mbah Thohir, Veteran Agresi Belanda di Magelang

Pertiwi - detikNews
Jumat, 10 Nov 2017 09:31 WIB
Bercengkrama dengan Mbah Thohir, Veteran Agresi Belanda di Magelang
Thohir di rumahnya, Magelang. Foto: Pertiwi
Magelang - Thohir, namanya. Pria asal Magelang ini merupakan salah seorang veteran yang berperan merebut kemerdekaan RI pada masa Agresi militer Belanda.

Di usianya yang ke 89 tahun, Thohir mengenang perjuangan yang dilakukannya saat dia masih remaja.

Thohir menceritakan, perjuangan meraih kemerdekaan tidaklah mudah. Diwarnai dengan perang angkat senjata melawan penjajah kolonial Belanda, mempertaruhkan harta benda dan nyawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pria kelahiran tahun 1928 ini pada masanya pernah menjadi Pamong yang menangani administrasi di desa.

"Saya juga turut membantu perang melawan penjajah kolonial saat agresi militer Belanda I tahun 1947. Saat itu saya berusia 19 tahun. Kami bersatu bersama tentara republik, dan rakyat, untuk menghalangi Belanda yang saat itu menyerbu wilayah Magelang," tutur Thohir saat berbincang dengan detikcom di rumahnya, Dusun Pabelan I, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Jumat (10/11/2017).

Dia mengenang, keadaan tentara dan pejuang kemerdekaan ketika itu kalah dalam bidang persenjataan. Kondisi tersebut memaksa para pejuang untuk bergerilya.

"Belanda kuat dalam hal senjata, sementara kami hanya bermodalkan senjata seadanya dan semangat saja. Berhari-hari sampai berbulan-bulan kami bergerilya, rakyat juga mendukung dengan memberi makanan atau minuman untuk pejuang," katanya.

Perjuangan Thohir dan para veteran lainnya yang dibantu masyarakat tak sia-sia. Kemerdekaan akhirnya berhasil diraih oleh Indonesia.

Saat ditanya harapannya kepada pemerintah saat ini, Thohir mengaku ingin mendapat lebih banyak perhatian.

"Saya berharap, pemerintah lebih memperhatikan keadaan para veteran yang dulu berjuang meraih kemerdekaan," kata Thohir.

Kakek lima anak dan delapan cucu itu setiap bulannya menerima uang pensiun sebesar Rp 2,1 juta. Uang ini dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia dan keluarganya.

Kini, meskipun telah merdeka, Thohir masih harus berjuang atas hidupnya. Dia tinggal hanya di rumah peninggalan orangtua yang sudah tak layak ditempati.
Rumah tersebut berdinding anyaman bambu yang berlubang di beberapa bagiannya. Sementara alas rumah masih berupa tanah yang tidak rata.

Atap rumah pun berlubang dan selalu bocor setiap kali hujan turun.

Cucu Thohir, Tri Rahayu (25), mengatakan, kakeknya tersebut memilih tinggal dan beraktivitas di rumah itu meski telah dibujuk untuk tinggal bersama keluarga di tempat lainnya.

"Tapi mbah memilih tinggal di sana, padahal rumahnya sudah lapuk dan bocor saat hujan," katanya.

Dikatakannya, Thohir saat ini pendengarannya mulai berkurang, pikun, dan kerap sakit-sakitan. Kondisi itu memerlukan biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Senada dengan kakeknya, Tri juga berharap supaya pemerintah memperhatikan nasib para veteran yang belum tentu baik seperti yang dibayangkan. Termasuk kakeknya.

"Kalau ada bantuan untuk perbaikan rumah, kami sangat mengharapkannya," kata Tri. (sip/sip)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads