Mbah Rendeng Tak Punya Kartu Jaminan Kesehatan Bila Sakit

Mbah Rendeng Tak Punya Kartu Jaminan Kesehatan Bila Sakit

Robby Bernardi - detikNews
Selasa, 24 Okt 2017 16:40 WIB
Mbah Rendeng Tak Punya Kartu Jaminan Kesehatan Bila Sakit
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Darkiyem (69) atau Mbah Rendeng adalah nenek tua yang telah ditinggal mati suaminya. Dia tidak punya anak dan hidup sebatang kara.

Dia adalah warga RT 22/RW 05, Desa Wonokerto, Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan. Dia mengaku kerap sakit, namun hanya berharap pertolongan warga sekitar atau mantri kesehatan setempat. Dia tidak punya biaya untuk berobat dan tidak punya kartu jaminan kesehatan.

Kendati sudah hidup puluhan tahun di desa setempat, Mbah Rendeng ini hanya memiliki KTP saja. Namun KTP tersebut, salah menuliskan di tanggal dan tahun kelahirannya. Bahkan dia sama sekali tidak mendapatkan fasilitas kesehatan seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) ataupun BPJS.

"Tidak pernah dan tidak terdaftar di kelurahan kartu-kartu itu Mas. Kalau sakit ya warga sini yang membantu saya," katanya Mbah Rendeng di rumahnya, Selasa (24/10/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengaku tidak menerima bantuan dari pihak pemerintah. Justru warga sekitar yang banyak membantunya terutama dalam kehidupan sehari-hari hingga berobat saat sakit. "Kalau saya sakit, saya disuntik pak mantri kesehatan. Tidak mau dibayar," tutur Mbah Rendeng.
Mbah Redeng di rumahnyaMbah Redeng di rumahnya Foto: Robby Bernardi/detikcom


"Yang kerap membantu ya warga-warga sini. Pak manten (Mantan Kades), Pak Guru dan Pak kaji serta tetangga dan para nelayan yang pulang dari laut," lanjut dia.

Untuk makan sehari-hari, dia juga sering mendapatkan kiriman nasi dan lauk pauk dari warga sekitar. Makanan itu tidak dihabiskan saat itu juga tetapi ada yang disimpang untuk persediaan. Meski makanan itu jadi basi, dia tidak mempedulikan.

"iasanya banyak dikasih warga. Sebagai persedian saya sisihkan untuk besok-besoknya. Yo mambu (basi). Tapi gimana lagi," katanya.

Menurut Sudaryanto, Ketua Pengurus Musala Roudlotul Jannah, Mbah Rendeng punya semangat hidup tinggi. Apapun dilakukan semampunya untuk bertahan hidup. Sosok Mbah Rendeng dikenal baik oleh warga setempat.

"Dia sering membantu dengan ikhlas. Makanya warga juga sering mengirimi masakan untuk Mbah Rendeng," jelasnya.
Rumah Mbah RendengRumah Mbah Rendeng Foto: Robby Bernardi/detikcom


Sudaryanto sendiri mengakui dirinya tidak tega saat melihat Mbah Rendeng sakit dengan kondisi tempat tinggalnya.

"Di sekitar musala ada tanah kosong, kalau pemikiran saya biar dibuatkan rumah di sekitar itu. Namun, kita juga lagi nunggu musyawarah warga karena kita juga terbentur dana," katanya. (bgs/bgs)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads