DetikNews
Senin 23 Oktober 2017, 16:35 WIB

Denmark Bantu Pengolahan Sampah Jadi Energi di Jateng

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Denmark Bantu Pengolahan Sampah Jadi Energi di Jateng Acara groundbreaking proyek percontohan The Enviromental Support Programme Phase 3 (ESP3). Foto: Angling Adhitya Purbaya
Semarang - Pemerintahan Denmark memberikan dana hibah untuk membuat proyek percontohan bidang lingkungan dan energi di Jawa Tengah. Ada 4 proyek yang dikerjakan, mulai dari pengelolaan sampah menjadi listrik hingga pembangkit listrik tenaga surya.

Hari ini digelar groundbreaking untuk 4 proyek yang berada di Semarang, Klaten, Karimunjawa, dan Cilacap. Acara groundbreaking proyek percontohan The Enviromental Support Programme Phase 3 (ESP3) dilakukan simbolis di kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah Jateng. Video conference juga dilakukan live dengan daerah-daerah lokasi proyek.

Proyek pertama yaitu Pembagkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Metana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang yang bisa menghasilkan 10 ribu kwh per tahun. Nilai proyek yaitu Rp 71 miliar yang diberikan dari Kedutaan Denmark Rp 44 miliar, Kementriaan PUPR Rp 18 miliar, dan Pemkot Semarang Rp 9 miliar.

"Yang Semarang rencana dioperasikan bulan Oktober 2018," kata Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, Senin (23/10/2017).

Proyek di Klaten yaitu pengelolaan limbah pati onggok atau sari pati dari serat batang Aren. Pati onggok di Klaten diolah menjadi bihun, hong kwe, bakso, dan menjadi pemasok yang cukup besar di Jawa. Limbah cair dengan jumlah 185 m3/hari menjadi masalah karena hanya dibuang ke sungai.

Limbah tersebut akan diolah di instalasi pengolahan air limbah dengan fasilitas biogas untuk menghasilkan gas metana sebesar 3.111 mwh per tahun untuk 2.200 rumah tangga. Denmark menggelontorkan hibah Rp 14 miliar untuk proyek ini.

Berikutnya PLTS di Karimunjawa tepatnya di Pulau Parang, Nyamuk dan Genting. Selama ini warga di tiga pulau hanya bisa memanfaatkan listrik beberapa jam dari PLTD dan PLTS yang sudah ada. Denmark menghibahkan Rp 14 miliar untuk PLTS dengan kapasitas 136 kwp di Pulau parang, 111 kwp di Pulau Nyamuk, dan 36 kwp di Pulau Genting.

Terakhir yaitu pengolahan refuse derived fuel (RDF) TPA Jeruk Legi. Sampah akan diolah dan dibuat menjadi bahan bakar kering. Gunanya sebagai substitusi batu bara di industri. Pembiayaan yaitu dari Denmark Rp 44 miliar, Kementrian PUPR Rp 25 miliar, Pemprov Jateng Rp 10 miliar, dan Pemkab Cilacap Rp 3 miliar.

"Harapannya jadi percontohan dan direplikasi di banyak tempat," tandas Ganjar.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Rasmus Abildgaard Kristensen mengatakan pihaknya memberikan bantuan teknis, sedangkan pengelolaannya diserahkan kepada mitra mereka yaitu Pemerintah Daerah setempat.

"Pimpinan di sini visioner dan bisa melihat ada potensi seperti mengubah limbah jadi energi. Ada situasi yang memungkinkan bisa menerapkan teknologi ini," kata Rasmus ketika ditanya kenapa memilih Jateng sebagai percontohan.

Kerjasama sudah terjalin sejak 2005, dan hingga fase ketiga kali ini dana yang diberikan Denmark totalnya mencapai 270 juta Kroner Denmark atau Rp 600 miliar. Fase ketiga sendiri berjalan sejak 2013 hingga 2017.

Dalam groundbreaking tersebut juga dihadiri perwakilan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.
(sip/sip)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed