DetikNews
Senin 23 Oktober 2017, 11:47 WIB

Setelah 25 Tahun, Siswa di SD ini Kini Tak Perlu Lagi Terjang Sungai

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Setelah 25 Tahun, Siswa di SD ini Kini Tak Perlu Lagi Terjang Sungai Jembatan di Kelurahan Jabungan, Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya
Semarang - Tugiono (60), warga Kelurahan Jabungan RT 4 RW 2 Kota Semarang, Jawa Tengah merasa lega, karena kini ia tidak was-was ketika mengantar anaknya sekolah melintasi sungai. Sebuah jembatan darurat kini telah dibangun sejak 25 tahun pengajuan permohonan pembangunan jembatan di sana.

Puluhan tahun Tugiono harus menyebrangi sungai tersebut ketika mengantar anaknya ke SDN Jabungan yang berada di dekat sungai. Jika air meluap, terpaksa Tugiono memutar sejauh 5 kilometer.

"Biasanya saya gendong. Sejak kelas 1 SD sampai sekarang sudah kelas 5 SD. Kadang kalau air terlalu kencang ya tidak sekolah," kata Tugiono di Jabungan, Semarang, Senin (23/10/2017).

Peresmian jembatan di Kelurahan Jabungan, Semarang.Jembatan di Kelurahan Jabungan, Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya

Tidak hanya anak Tugiono, ada sekitar 30 siswa lainnya yang selama ini harus menyeberangi sungai tersebut. Kepolisian setempat dan guru-guru SD Jabungan seringkali ikut membantu para siswa yang kesulitan menyeberang.

"Saya senang ada jembatan ini. Sudah nggak perlu masuk sungai lagi," kata salah satu siswa kelas 2 SDN Jabungan, Chelsi Adista.

Kepala SDN Jabungan, Suryanto mengatakan selama ini 30 siswanya memang harus menerjang sungai agar tidak memutar terlalu jauh. Ada jadwal piket guru untuk membantu siswa yang menyeberang sungai.

"30 anak itu dari dusun Ndoro, Kaum, Gunung Tugel. Kalau memutar jauh, sekitar 5 kilometer. Orangtua yang tidak punya kendaraan berkendala. Guru-gurunya diadakan piket untuk bantu anak terutama saat hujan," terang Suryanto.

Jembatan sepanjang 81 meter dan lebar 1,2 meter tersebut kini berdiri tegak menghubungkan wilayah Jabungan yang terpisah sungai. Terlihat para siswa antusias mencoba berjalan di atas jembatan setelah diresmikan oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi didampingi wakilnya, Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Saat memberikan sambutan di SDN Jabungan, Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu sempat menyentil bawahannya karena pihaknya baru mendengar kondisi siswa yang harus menyeberang sungai pada awal tahun ini. Setelah ditelusuri ada informasi pengajuan pembangunan jembatan sebenarnya sudah sejak 25 tahun lalu.

"Ada dari PU tidak? Kenapa ini jalannya juga jelek? Dari Dinas Perumahan dan Pemukiman hadir tidak? Ayo jalan-jalan ke 'bawah'. Kalau sering bisa tahu mana jalan yang layak, kurang layak, atau tidak layak. Jangan sampai masyarakat sudah bayar PBB jalannya masih rusak," tegas Hendi.

Menurutnya pejabat pemerintahan harus sering-sering turun ke masyarakat. Jangan sampai hanya mendengar laporan ABS alias Asal Bapak Senang. Sehingga kondisi seperti siswa yang menyeberang sungai seharusnya bisa segera diatasi.

Peresmian jembatan di Kelurahan Jabungan, Semarang.Jembatan di Kelurahan Jabungan, Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya


"Konon katanya pengajuan 25 tahun lalu. Saya baru dengar pas jalan sehat di awal tahun. Kita otak-atik ada dana pemerintah dan sponsor. Sekarang orang tua tidak perlu kahawatir anaknya menyeberang sungai," kata Hendi.

Ia juga mengimbau jika menemui kondisi seperti di Jabungan, bisa lapor ke perangkat desa setempat atau jika belum segera ditangani bisa langsung ke dirinya.

"Saya tidak mau ada istilah wilayah blusuk dan pinggiran. Semua warga Kota Semarang," tuturnya.

Pemerintah Kota Semarang saat ini memang sedang memprioritaskan beberapa daerah untuk perbaikan. Hendi menjelaskan daerah tersebut yaitu Jabungan, Rowosari, dan beberapa titik di Mangkang.
(alg/sip)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed