DetikNews
Minggu 22 Oktober 2017, 19:37 WIB

'Bisikan dari Jogja' untuk Jokowi: Kampus Terpapar Doktrin Radikal

Edzan Raharjo - detikNews
Bisikan dari Jogja untuk Jokowi: Kampus Terpapar Doktrin Radikal 'BIsikan daro Jogja' (Foto: Edzan Raharjo/detikcom)
Yogyakarta - Pemerintahan Jokowi-JK masih memiliki pekerjaan rumah besar terkait dengan ancaman radikalisme dan terorisme. Selain itu wajah universitas dan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia saat ini dinilai lebih menampilkan wajah agama dengan tabungan ideologi dan doktrin radikal.

Hal itu tertuang dalam rekomendasi seminar dan focus grup discussion (FGD) 'Bisikan dari Jogja' yang dihadiri sejumlah tokoh di antaranya Syaffi Maarif, T Baskoro, Ignas Kleden dan lain-lain.

"Radikalisme membunuh keberagaman kita ini. Jadi ini tidak hanya berbahaya bagi pendidikan perguruan tinggi tetapi juga agama. Lama-lama agama ditolak orang. Agama tidak lagi menghidupkan hati nurani, otak, hati, tapi jadi mematikan," kata Buya Syafii di Jogjakarta Plaza Hotel, Sleman, Yogyakarta, Minggu (22/10/2017).

Rekomendasi lain dari FGD ini adalah masalah wajah universitas dan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia saat ini dinilai lebih menampilkan wajah agama dengan tabungan ideologi dan doktrin radikal. Kekisruhan kultural ini bersumber dari pembonsaian paham Islam yang bermula pada paham Wahabisme.

"Pemerintahan Jokowi harus perhatikan kultur akademik ke depan, jangan terjadi semacam pertarungan antara pencerahan dan radikalisme. Ini fonemea internasional, global, bahwa target kelompok-kelompok radikal juga perguruan tinggi. Program-program studi yang terkait dengan science dan enginering jadi sasaran bagi radikalisme karena tradisi pemikiran linier di program tersebut," kata Ignas Kleden di tempat yang sama.

Acara itu juga mendesak KPU dan Panwaslu melarang penggunaan isu-isu primordial dan radikal dalam kampanye, hal ini karena adanya manipulasi politik yang memainkan seperti 'perang suci' dan membangkitkan hantu komunisme. Kemudian juga ditengarai adanya gejala menyatunya kekuatan Orde Baru dan kelompok garis keras. Sehingga perlu pendidikan karakter yang antikekerasan dan membangun budaya toleransi.

Selain itu juga ada ancaman populisme yang membahayakan kesatuan bangsa, karena digerakkan oleh primodialisme religius. Populisme menjadi semakin rumit karena muncul dua gejala lain yaitu kembalinya kekuatan militer kedalam politik sipil, dan menyeruaknya ideologi transnasional.
(mbr/mbr)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed