"Ya kami menyarankan untuk membuat jalur evakuasi, kita kan enggak tahu kapan akan terjadi (bencana)," kata Dosen Teknik Geologi UGM, Wahyu Wilopo kepada wartawan di Fakultas Teknik UGM, Jumat (20/10/2017).
Menurutnya, jalur evakuasi menjadi penting karena Bukit Bintang adalah lokasi wisata. Bila sewaktu-waktu terjadi bencana alam di sana, dengan adanya jalur evakuasi diharapkan bisa meminimalisir munculnya korban jiwa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyu melanjutkan, meski Bukit Bintang berada di daerah rawan bencana, bukan berarti pihaknya melarang masyarakat beraktifitas di bukit tersebut. Namun warga setempat dan wisatawan harus tetap waspada terhadap ancaman longsor.
"Kalau sudah paham pasti warga akan melakukan mitigasi. (Misalnya) nanti kalau ada tanda-tanda (mau longsor) mau mengungsi. Kalau tidak, dengan sadar warga harus mau membuat sistem lereng yang kuat terhadap longsor," ucapnya.
Sementara itu Guru Besar Teknik Geologi UGM, Prof Ir Dwikorita Karnawati, PhD menambahkan pihaknya tak menyangkal bila kawasan Wisata Bukit Bintang termasuk daerah rawan bencana. Ancamannya utamanya adalah longsor akibat gempa bumi .
"Bukit Bintang sampai ke timur itu tipe batuannya keras, berlapis. Kondisi kerawanannya (longsor) itu berbeda, bukan karena hujan tetapi karena gempa. Tetapi tetap sama-sama bahayanya, sehingga perlu ada mitigasi," pungkasnya.
(bgs/bgs)











































