DetikNews
Jumat 13 Oktober 2017, 13:12 WIB

Jejak Londo Ireng, Tentara Asal Afrika di Purworejo

Rinto Heksantoro - detikNews
Jejak Londo Ireng, Tentara Asal Afrika di Purworejo Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Purworejo - Londo ireng atau Belanda hitam merupakan tentara bayaran asal Afrika Barat seperti Ghana dan Burkina Fasau. Mereka direkrut oleh Belanda pasca Perang Diponegoro, atau Perang Jawa (Java Oorlog) pada tahun 1831.

Jejak peninggalan bekas pemukiman Londo Ireng ini sekarang masih ada di kampung Afrikan. Kampung yang berada di wilayah Pangen Juru Tengah ini disebuat Kampung Afrikan karena dulunya menjadi tenpat tinggal tentara Afrika beserta keluarganya.

Beberapa bangunan kuno khas Belanda yang merupakan bekas rumah para tentara Londo Ireng. Di sepanjang gang juga masih nampak pagar beton dengan kawat berduri buatan kolonial yang berjajar rapi, serta masih terdapat peninggalan lain yang tersisa di daerah itu.

Orang-orang Afrika ini dikontrak pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi tentara bayaran yang di tempatkan di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Salah satunya adalah di Purworejo yang setelah Perang Diponegoro menjadi basis militer Hindia Belanda selain Magelang.
Pagar kawat berduri di jalan Afrikan PurworejoPagar kawat berduri di jalan Afrikan Purworejo Foto: Rinto Heksantoro/detikcom


Perang Diponegoro sendiri merupakan perang terberat yang dilakoni oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu. Selain memakan banyak korban juga menguras tenaga, pikiran dan keuangan pemerintah Hindia Belanda.

"Perang Jawa sudah menelan 8.000 serdadu Hindia Belanda baik serdadu kulit putih maupun serdadu pribumi yang direkrut pemerintah kolonial," kata sejarawan Purworejo, Atas Danusubroto (65) kepada detikcom, Jumat (13/10/2017).

Menurut dia, serdadu kulit putih itu merupakan serdadu bayaran dari Eropa terutama Jerman, karena Belanda sendiri merupakan negara kecil yang tidak mungkin menyediakan banyak serdadu sehingga mengambil dari negara tetangga.

Meskipun Perang Jawa berakhir pada tahun 1830 kata Atas, ambisi Belanda untuk menaklukkan Diponegoro beserta seluruh pasukannya masih sangat besar. Keinginan untuk merekrut pasukan lebih besar lagi masih ada. Namun karena ada larangan dari negara-negara Eropa untuk merukrut tentara bayaran, maka Belanda pun mencari akal untuk merekrut tentara bayaran dari negara di luar Eropa. Salah satunya negara di Afrika Barat seperti Ghana, Pantai Gading dan Burkina Fasau.

Di sisi lain, pasukan Pangeran Diponegoro yang waktu itu berpusat di daerah Bagelen di sebelah selatan Purworejo, Jawa Tengah sekarang ini. Sisa-sisa pasukan Diponegoro itu terus melakukan perlawanan-perlawanan di beberapa daerah. Salah satunya dipimpin oleh Gama Wijaya atau Raden Mas Pujo, disusul dengan pemberontakan di daerah Kutoarjo di bagian barat Purworejo.

"Di daerah Bagelen yang waktu itu juga disebut sebagai bagian Tanah Mancanegara Kilen (sebutan wilayah luar Keraton Yogyakarta) sejak tanggal 18 Desember 1830 dijadikan sebagai sebuah wilayah Karesidenan dengan perlakuan khusus, Belanda pun mengawasi dengan ketat sistem pemerintahan yang ada di daerah tersebut," lanjut Atas.

Wilayah Karesidenan Bagelen sendiri mencapai daerah Ambal dan Petanahan di Kebumen, Jawa Tengah. Untuk mengawasi keamanan di Bagelen, tangsi militer di Kedung Kebo yang berada di pusat kota Purworejo ditingkatkan pembangunannya. Bahkan dibangun juga benteng pertahanan sebanyak 25 benteng di wilayah Bagelen dan sepanjang Urut Sewu daerah pesisir selatan Kebumen.

"Daerah selatan Purworejo dan Kebumen merupakan basis pasukannya Pangeran Diponegoro sehingga kolonial selalu mengawasi dengan ketat, bahkan dulu si sepanjang jalan pesisir selatan dikenal dengan jalan Pangeran Diponegoro," paparnya.

Setelah kehabisan tentara bayaran kulit putih dan adanya larangan perekrutan tentara bayaran dari Eropa maka pemerintah Kolonial Belanda yan waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch mengusulkan untuk mendatangkan tentara bayaran dari Afrika terutama dari bagian Afrika Barat yang kini disebut Ghana dan Burkina Fasau. Selain ada larangan dari Eropa, alasan pengambilan serdadu bayaran dari Afrika karena tentara bayaran dari negara itu lebih murah, berani perang dan lebih tahan dalam menghadapi iklim serta penyakit di daerah tropis.
Rumah peninggalan Londo IrengRumah peninggalan Londo Ireng Foto: Rinto Heksantoro/detikcom


Tentara bayaran berhasil di rekrut dari Afrika Barat dengan bayaran 100 Gulden per orang dalam satu bulan. Mereka didatangkan secara bergelombang mulai tahun 1831-1836 sebanyak 112 orang. Kemudian tahun 1837-1841 sebanyak 2.100 orang dan tahun 1860-1872 sebanyak 800 orang. Tentara bayaran itu dikontrak selama 12 tahun.

"Dari jumlah itu kemudian disebar ke beberapa tangsi militer Belanda diantaranya di Semarang, Salatiga, dan Solo. Tetapi yang paling banyak ditempatkan di tangsi Kedungkebo Purworejo karena di daerah Bagelen dianggap daerah paling rawan," kata Atas.

Meski Perang Diponegoro sudah usai lanjut Atas, tangsi Kedungkebo yang telah berkekuatan satu batalyon tentara kulit putih masih dianggap kurang sehingga ditambah dengan tiga kompi serdadu dari Afrika. Tentara bayaran dari Afrika tersebut kemudian dinamakan Zwarte Hollanders atau Belanda Hitam alias Londo ireng.

Selain mengamankan wilayah Jawa yakni Purworejo dan sekitarnya, tentara Londo Ireng itu juga diterjunkan untuk peperangan di daerah lain seperti Lampung, Bali, Sumatera Selatan hingga Aceh.

Karena berprestasi itu, kemudian pemerintah kolonial pada tahun 1859 membeli tanah yang diberikan kepada serdadu Londo Ireng. Tentara bayaran yang masih lajang itu pun diizinkan menikah dengan pribumi dan diberi tanah masing-masing seluas 1.151 meter persegi untuk dibangun rumah serta lahan garapan untuk berkebun dan bertani.

"Daerah yang ditempati oleh para tentara bayaran dari Afrika itu hingga sekarang dikenal dengan Kampung Afrikan, bahkan nama jalan masuk ke kampung juga diberi nama jalan Afrikan. Pemukiman itu terletak di Kelurahan Pangen Jurutengah, Kecamatan Purworejo. Jalan Afrikan itu merupakan jejak Londo Ireng di Purworejo," pungkas Atas.
(bgs/bgs)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed