Gubernur Ganjar ke Masjid Menara Kudus, Pengurus: Lewat Pintu Lain

Wikha Setiawan - detikNews
Jumat, 06 Okt 2017 13:44 WIB
Masjid Menara Kudus. (Foto: Wikha Setiawan/detikcom)
Kudus - Salah satu pintu menuju Kompleks masjid Menara Kudus, dipercaya memiliki tuah penumbang jabatan yang dipasang oleh Sunan Kudus. Banyak pejabat yang datang melewatinya dan di kemudian hari mengalami musibah dalam karirnya. Namun akhir pekan lalu Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, 'berani' datang menghadiri acara buka luwur.

Buka luwur makam Sunan Kudus selalu diadakan pada tanggal 10 Muharam, tahun ini bertepatan dengan 30 September lalu. Tradisi itu berupa penggantian kelambu makam sang sunan dan selalu mendapat sambutan dari ribuan warga. Pada saat itu juga digelar tradisi bagi-bagi nasi jangkrik.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, hadir dalam acara itu. Namun entah dia sudah tahu atau memang ada yang mengarahkan, Ganjar masuk ke kompleks masjid dan makam tersebut bukan melewati pintu gerbang bertuah yang telah dipasangi doa sakti Sunan Kudus.

"Saat itu, Pak Ganjar memang datang tapi lewat pintu samping, bukan gerbang" ujar Pengurus Komunitas Menara Kudus, Abdul Jalil, Jumat (6/10/2017).

Baca juga: Menguak Mitos Penguasa Akan Tumbang di Kompleks Masjid Menara Kudus


Dalam konteks kunjungan Ganjar, Abdul Jalil, terkesan berhati-hati dalam memberikan komentar. Selain memang masih menjabat sebaai kepala daerah setempat, saat ini Ganjar juga sedang berjuang mengharap datangnya rekomendasi dari partainya (PDIP) untuk dicalonkan kembali sebagai Gubernur Jawa Tengah untuk periode yang kedua.

Jalil mengatakan bahwa kehadiran Ganjar Prabowo ke Masjid Menara Kudus bukan hanya sekadar mampir, namun memang sejak awal diniatkan datang.

"Tapi tidak tahu, apakah niat dari Pak Ganjar murni ingin bersilaturahim atau ada unsur politik. Tapi bukan hanya mampir. Kita lihat nanti," kata dia.

Baca juga: Alasan Sunan Kudus Pasang Rajah Penumbang Penguasa di Pintu Masjid


Jalil juga mengatakan, dengan adanya pintu bertuah itu bukan berarti semua pejabat dan politikus tidak mau datang. Bukan berarti juga setelah datang mereka akan selalu kehilangan karir setelah datang ke menara. Yang terpenting, lanjutnya, siapapun yang datang ke Menara Kudus atau berziarah harus menanggalkan kepentingan duniawi, terutama kekuasaan.

Dia menyebutkan beberapa waktu lalu seorang tokoh datang dari Jakarta untuk berziarah ke makam Sunan Kudus. Sejak awal memang, tokoh tersebut datang dari Jakarta melulu berniat untuk berziarah, tidak ada tujuan lalin. Saat ini tokoh tersebut juga tidak tertimpa kesialan apapun, bahkan karirnya melesat sebagai ketua lembaga tinggi negara.

"Beliau datang ke mari, niatnya ziarah. Murni ingin ziarah. Sekarang beliau menjadi pimpinan salah satu lembaga tinggi negara. Tapi jangan ditulis namanya. Beliau saat itu ziarah ke mari ya kami antar sebagaimana tamu dan memang kami lewatkan pintu samping," ujar Jalil. (mbr/mbr)