Menguak Mitos Pejabat Akan Tumbang di Kompleks Masjid Menara Kudus

Wikha Setiawan - detikNews
Jumat, 06 Okt 2017 13:20 WIB
Masjid Menara Kudus. (Foto: Wikha Setiawan/detikcom)
Kudus - Masjid Menara Kudus adalah salah satu masjid tertua dan bersejarah di tanah air. Didirikan oleh Sunan Kudus. Di kompleks masjid itu pula kemudian sang sunan dimakamkan. Namun kenapa banyak pejabat dan politisi yang enggan datang? Apa kaitannya dengan mitos pintu bertuah yang bisa membuat pejabat tumbang jika melewatinya?

Masjid Menara Kudus adalah bukti kecerdasan Sunan Kudus dalam strategi dakwah. Dia memadukan puncak-puncak kebuadayaan yang ada saat itu. Dia membangun masjid dengan menara menyerupai candi Hindhu dan di sekelilingnya diberi hiasan-hiasan keramik China. Dia ingin memberi pesan, Islam datang tidak untuk merusak peradaban dan kebudayaan masyarakat setempat yang telah berkembang.

Pesan kearifan lainnya juga bisa ditangkap saat dia melarang warga Kudus mengonsumsi daging Sapi. Alasannya jelas, jangan melukai memori kolektif warga Kudus yang saat itu masih banyak memeluk agama Hindhu. Dakwah datang dengan lembut, masuk ke relung hati yang paling lembut; bukan dengan kebisingan dan kegaduhan.

Di balik kemegahan dan keanggunan Masjid Menara Kudus, terdapat satu cerita yang cukup menarik. Tak banyak penguasa, pejabat, politisi atau orang-orang yang merasa memiliki kekuatan khusus, yang singgah ke masjid atau berziarah ke makam sang sunan. Kenapa?

Masyarakat luas mengaitkan hal itu dengan cerita rakyat bahwa Sunan Kudus telah memasang Rajah Kalacakra di gerbang atau pintu masuk menuju masjid yang juga bisa mengakses ke makam. Rajah itu, konon, mampu melemahkan semua kekuatan atau daya linuwih seseorang. Bahkan dipercaya, penguasa akan segera kehilangan kekuasaannya jika melewati rajah itu. Demikian pula bagi pejabat.

Pengurus Komunitas Menara Kudus, Abdul Jalil, memaparkan pesan dari Sunan Kudus dengan memasang Rajah Kalacakra itu adalah, agar siapapun yang datang ke Menara Kudus atau berziarah harus menanggalkan kepentingan duniawi, terutama kekuasaan.

Sunan Kudus sendiri selama hidupnya selaku memberikan motivasi kepada para santrinya maupun warga umum untuk memegang pedoman hidup 'gusjigang', akronim dari bagus, ngaji, dagang (intelektual, spiritual, dan ekonomi). Itulah yang layak dipegang dan dicari dalam menjalani kehidupan.

"Jika hendak ke Menara Kudus atau ziarah jangan niatnya cuma mampir, tapi memang seyogyanya bersilaturahmi dan jangan ada kepentingan politik. Hal ini ada kaitannya Sunan Kudus mengajarkan 'Gusjigang'. Sudahlah, kalau ke Kudus jangan berpikir kekuasaan," tutur dosen Program Pasca Sarjana STAIN Kudus tersebut, Jumat (6/10/2017). (mbr/mbr)