Dicurhati Peternak yang Merugi, Dirjen Peternakan: Itu Lagu Lama

Dicurhati Peternak yang Merugi, Dirjen Peternakan: Itu Lagu Lama

Ragil Ajiyanto - detikNews
Selasa, 03 Okt 2017 18:28 WIB
Dicurhati Peternak yang Merugi, Dirjen Peternakan: Itu Lagu Lama
I Ketut Diarmita. (Foto: Ragil Ajiyanto/detikcom)
Boyolali - Para peternak unggas mengadu kepada Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, perihal harga jual ayam yang lebih rendah dari biaya produksi. Namun Diarmita tidak kaget dengan keluhan itu. Dia bahkan menyebut itu sebagai lagu lama. Kenapa begitu?

Para peternak unggas se-Jawa Tengah ikut diundang dalam pertemuan dengan Dirjen Peternakan di Desa Randusari, Kecamatan Teras, Boyolali hari ini. Kesempatan itu digunakan untuk mengadukann keluhannya perihal harga jual ayam yang terus merosot

"Kondisi saat ini harganya di bawah biaya pokok produksi (BPP). Kami minta pemerintah mencarikan solusi bagaimana agar harga telur, ayam broiler, ayam pejantan itu bisa naik di atas biaya pokok produksi," kata Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nusantara, Sugeng Wahyudi, dalam acara tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, regulasi dari pemerintah memungkinkan harga referensi. Untuk ayam broiler harga referensinya Rp 18 ribu, namun harga di tingkat petani peternak saat ini hanya Rp 14 ribu. "Masih ada selisih Rp 4.000. Ini harus dicari akar masalahnya, mengapa hal ini terjadi," lanjutnya.

Dampak harga di bawah biaya pokok produksi itu, kata Sugeng, jumlah petani peternak kini semakin berkurang. Yang ada tinggal perusahaan-perusahaan besar (integrator) yang bisa menangguk keuntungan.

Namun I Ketut Diarmita mengaku tidak kaget atas keluhan itu. Dia mengatakan sengaja mengundang semua pihak, termasuk integrator dan peternak mandiri dalam acara itu untuk mencari solusi terbaik bersama-sama.

Menurutnya, selama ini khususnya di wilayah Jawa setiap memasuki bulan Sapar dan Suro selalu terjadi persoalan seperti itu karena permintaan unggas memang menurun. Dampaknya, akan ada kelebihan produksi.

"Itu sudah lagu lama. Untuk itu kita akan ambil sikap bersama agar peternak tidak rugi. Apa keluhan peternak akan saya carikan jalan keluar," ucapnya.

Pemerintah, kata dia, sudah mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait masalah itu. Selain itu pihaknya juga mengajak para pengusaha besar untuk juga memikirkan nasib kalangan peternak kecil.

"Sudah ngobrol dengan salah satu integrator, akan membuka ekspor ke Korea Selatan. Pelung itu ada. Saya berfikir lebih baik kelebihan-kelebihan yang ada di Indonesia kita ekspor. Permasalahannya kembali ke biaya produksi, bagaimana mencari solusi agar biaya produksi itu turun sehingga kita bisa bersaing di sana," tandasnya. (mbr/mbr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads