Para peternak unggas se-Jawa Tengah ikut diundang dalam pertemuan dengan Dirjen Peternakan di Desa Randusari, Kecamatan Teras, Boyolali hari ini. Kesempatan itu digunakan untuk mengadukann keluhannya perihal harga jual ayam yang terus merosot
"Kondisi saat ini harganya di bawah biaya pokok produksi (BPP). Kami minta pemerintah mencarikan solusi bagaimana agar harga telur, ayam broiler, ayam pejantan itu bisa naik di atas biaya pokok produksi," kata Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nusantara, Sugeng Wahyudi, dalam acara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak harga di bawah biaya pokok produksi itu, kata Sugeng, jumlah petani peternak kini semakin berkurang. Yang ada tinggal perusahaan-perusahaan besar (integrator) yang bisa menangguk keuntungan.
Namun I Ketut Diarmita mengaku tidak kaget atas keluhan itu. Dia mengatakan sengaja mengundang semua pihak, termasuk integrator dan peternak mandiri dalam acara itu untuk mencari solusi terbaik bersama-sama.
Menurutnya, selama ini khususnya di wilayah Jawa setiap memasuki bulan Sapar dan Suro selalu terjadi persoalan seperti itu karena permintaan unggas memang menurun. Dampaknya, akan ada kelebihan produksi.
"Itu sudah lagu lama. Untuk itu kita akan ambil sikap bersama agar peternak tidak rugi. Apa keluhan peternak akan saya carikan jalan keluar," ucapnya.
Pemerintah, kata dia, sudah mengeluarkan sejumlah kebijakan terkait masalah itu. Selain itu pihaknya juga mengajak para pengusaha besar untuk juga memikirkan nasib kalangan peternak kecil.
"Sudah ngobrol dengan salah satu integrator, akan membuka ekspor ke Korea Selatan. Pelung itu ada. Saya berfikir lebih baik kelebihan-kelebihan yang ada di Indonesia kita ekspor. Permasalahannya kembali ke biaya produksi, bagaimana mencari solusi agar biaya produksi itu turun sehingga kita bisa bersaing di sana," tandasnya. (mbr/mbr)











































