Karena semakin dikenal, peminat membatik pun kian hari kian meningkat. Dampaknya kesejahteraan perajin batik berangsur-angsur membaik. Kondisi ini dirasakan sejumlah perajin batik di Kampung Batik Giriloyo Bantul.
"Dari tahun ke tahun sampai sekarang ini, peminat batik meningkat," kata seorang perajin di Kampung Batik Giriloyo saat ditemui detikcom, Ny. Rurni Wahidah (43), Senin (2/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasil yang didapat (perajin batik) ya tergantung kualitas batik yang dihasilkannya. Namun secara umum meningkat," katanya.
Harga batik yang ditawarkan di Kampung Batik Giriloyo sendiri bervariasi. Ada batik yang dihargai puluhan ribu, tetapi juga ada batik yang dibandrol jutaan rupiah.
"Rata-rata harga batik dengan pewarna alami berkisar Rp 1 juta. Ada juga yang harganya sampai Rp 2,5 juta, itu untuk satu helai kain ukuran 2,5x1,05 meter. Harganya mahal karena pengerjaannya lama, sekitar 2-3 bulan," ungkapnya.
Walaupun dibandrol dengan harga cukup tinggi, ternyataa pemesan batik diGiriloyo tetap banyak. Kebanyakan para pembeli datang dari Jakarta.
"Orang asing yang beli juga banyak, ada yang dari Thailand, Italia, Belanda, Spanyol, dan negara-negara lainnya. Kebanyakan mereka yang datang ke sini awalnya untuk melihat proses membatik, karena tertarik terus beli," ucapnya.
Ibu-ibu di Dusun Giriloyo menekuni usaha batik Foto: Usman Hadi/detikcom |
Ketua II Paguyuban Batik Giriloyo, Nur Ahmadi, juga membenarkan adanya kenaikan permintaan batik di Kampung Batik Giriloyo. Buktinya pendapatan kotor kampung wisata ini di tahun 2016 menembus angka Rp 2,3 M.
"Rp 2,3 M itu keseluruhan omset di tahun 2016, berasal dari penjualan batik dan wisata edukasi di Gazebo Kampung Batik Giriloyo. Sementara jumlah kunjungan wisatawan ke kampung kami tahun lalu tembus 20 ribu pengunjung," pungkasnya.
(bgs/bgs)











































Ibu-ibu di Dusun Giriloyo menekuni usaha batik Foto: Usman Hadi/detikcom