Peserta aksi ini tergabung dalam Brebes Deaf Community (Bredecom). Mereka adalah warga Brebes yang menyandang tuna rungu. Tidak hanya tuli peserta bahkan ada yang bisu tuli. Peringatan Hari Tuli Sedunia ini diawali dengan jalan kaki keliling alun-alun, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu 'Indonesia Raya'.
Bagi yang menderita bisu tuli, menyanyikan lagi kebangsaan tersebut diekspresikan dengan gerakan tangan. Pemandu berada di depan memberi aba-aba mengenai bait-bait lagu yang sedang diputar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesan-pesan aksi diterjemahkan ke bahasa isyarat agar semua peserta bisa memahami. (Foto: Imam Suripto/detikcom) |
Namanya bisu dan tuli, orator tentu tidak akan sendirian. Bagi orator yang tuna rungu, bisa menyampaikan secara langsung. Namun agar pesan dalam orasi diterima oleh peserta, materi orasi diterjemahkan dengan bahasa isyarat. Sedangkan yang bisu tuli, menyampaikannya melalui gerak tangan sebagai bahasa isyarat.
Yuniar Ahmad Abdilah (32), peserta aksi, menyampaikan pesan melalui penerjemahnya mengimbau warga Brebes belajar bahasa isyarat meski tidak tuli.
"Ke depan kami minta agar masyarakat tahu bahasa isyarat, sehingga kami dengan orang yang normal bisa komunikasi dengan mudah," demikian yang disampaikan Yuniar melalui penerjemahnya.
Mereka ingin berkomunikasi dengan semua. Karenanya diharapkan semua kalangan mempelajari bahasa isyarat. (Foto: Imam Suripto/detikcom) |
Pesan lain yang disampaikan adalah, penderita tuna rungu agar mendapatkan hak yang sama seperti orang normal. Seperti kesempatan dalam mendapatkan pekerjaan dan pendidikan. (mbr/mbr)











































Pesan-pesan aksi diterjemahkan ke bahasa isyarat agar semua peserta bisa memahami. (Foto: Imam Suripto/detikcom)
Mereka ingin berkomunikasi dengan semua. Karenanya diharapkan semua kalangan mempelajari bahasa isyarat. (Foto: Imam Suripto/detikcom)