Ketika Presiden Soekarno Kredit dan Utang Demi Beli Lukisan Idaman

Ketika Presiden Soekarno Kredit dan Utang Demi Beli Lukisan Idaman

Usman Hadi - detikNews
Rabu, 27 Sep 2017 15:29 WIB
Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta. Foto: Usman Hadi
Yogyakarta - Dalamnya cinta Presiden pertama RI Soekarno pada lukisan sudah tak perlu ditanya lagi. Saking cintanya, Soekarno kerap kredit dan utang untuk membeli sebuah lukisan idamannya.

"Soekarno itu mendapatkan lukisan tidak semuanya membeli, tapi juga kredit, ngutang (utang). Kalau ada uang baru bayar," kata Mikke saat ditemui di Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Jogja Gallery, Rabu (27/9/2017).

Dia melanjutkan, gaji Soekarno sebagai presiden tidak terlalu besar. Kata Mikke, gaji presiden Soekarno di tahun 1945 sekitar Rp 1.000, dan di periode 1960-an gajinya naik menjadi Rp 20 ribu.
Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta.Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta. Foto: Usman Hadi
"Itu gaji untuk mencukupi kebutuhan pribadi, tidak ada (alokasi) kebutuhan untuk membeli lukisan. Sehingga dia harus berupaya dengan kredit (lukisan)," bebernya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu alasan Soekarno berani melakukan kredit dan utang untuk membeli lukisan, menurut Mikke karena Soekarno sangat dekat dengan para seniman. Oleh karenanya, bila tertarik dengan sebuah lukisan, meski tidak punya uang Soekarno memberanikan diri membeli.

"Biasanya Soekarno minta tolong ke Pelukis Soedarso untuk membayar ke Amrus Natalsya. Jadi dia (Soekarno) tidak langsung membayar ke seniman, cara bayarnya begitu," ungkapnya.
Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta.Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta. Foto: Usman Hadi
Selain membeli, koleksi lukisan miliki Soekarno juga banyak yang berasal dari pemberian seniman dan kepala negara sahabat. Di antara negara sahabat yang banyak memberikan hadiah lukisan seperti Tiongkok dan Uni Soviet.

"Memang paling banyak diberikan oleh pemimpin besar Tiongkok dan Moskow (Uni Soviet) pada saat konferensi Asia-Afrika. Pada waktu itu diberikan ratusan keramik Tiongkok dan sejumlah lukisan klasik Tiongkok," ucapnya.

Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta, Mikke Susanto di pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni'.Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta, Mikke Susanto di pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni'. Foto: Usman Hadi
Karena kegandrungan Soekarno terhadap seni inilah yang menjadikan Istana Negara banyak mengkoleksi lukisan berkualitas tinggi. Semua koleksi lukisan Soekarno diberikan ke negara, tidak dikoleksi secara pribadi.

"Semua koleksinya untuk rakyat, orientasinya untuk Indonesia, bukan untuk pribadi. Setelah itu tidak ada presiden yang lebih peduli dibanding Soekarno terhadap lukisan," pungkasnya. (sip/sip)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads