"Soekarno itu mendapatkan lukisan tidak semuanya membeli, tapi juga kredit, ngutang (utang). Kalau ada uang baru bayar," kata Mikke saat ditemui di Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Jogja Gallery, Rabu (27/9/2017).
Dia melanjutkan, gaji Soekarno sebagai presiden tidak terlalu besar. Kata Mikke, gaji presiden Soekarno di tahun 1945 sekitar Rp 1.000, dan di periode 1960-an gajinya naik menjadi Rp 20 ribu.
Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta. Foto: Usman Hadi |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya Soekarno minta tolong ke Pelukis Soedarso untuk membayar ke Amrus Natalsya. Jadi dia (Soekarno) tidak langsung membayar ke seniman, cara bayarnya begitu," ungkapnya.
Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta. Foto: Usman Hadi |
"Memang paling banyak diberikan oleh pemimpin besar Tiongkok dan Moskow (Uni Soviet) pada saat konferensi Asia-Afrika. Pada waktu itu diberikan ratusan keramik Tiongkok dan sejumlah lukisan klasik Tiongkok," ucapnya.
Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta, Mikke Susanto di pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni'. Foto: Usman Hadi |
"Semua koleksinya untuk rakyat, orientasinya untuk Indonesia, bukan untuk pribadi. Setelah itu tidak ada presiden yang lebih peduli dibanding Soekarno terhadap lukisan," pungkasnya. (sip/sip)












































Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta. Foto: Usman Hadi
Pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni' di Yogyakarta. Foto: Usman Hadi
Dosen Seni Rupa ISI Yogyakarta, Mikke Susanto di pameran 'Sukarno, Pemuda dan Seni'. Foto: Usman Hadi