Puluhan Desa di Demak Krisis Air Bersih

Puluhan Desa di Demak Krisis Air Bersih

- detikNews
Senin, 18 Sep 2017 17:05 WIB
Puluhan Desa di Demak Krisis Air Bersih
Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Demak - Sebanyak 59 desa di 13 kecamatan di Kabupaten Demak mengalami kekeringan. Warga mengalami kekurangan air bersih. Ribuan hektar sawah juga kering akibat minimnya air irigasi.

"Total ada sebanyak 59 desa dan 13 kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih. Banyak sumur warga yang mengering," kata Kepala Pelaksana BPBD Demak, Agus Nugroho di kantor, Senin (18/9/2017).

Dia mengatakan saat ini BPBD telah melakukan droping air bersih di sejumlah tempat. Droping air bersih dilakukan setelah masing-masing kecamatan dan desa mengajukan bantuan. Warga yang mulai mengalami kekurangan air bersih sejak bulan Agustus, bahkan ada juga yang sudah terjadi sejak bulan Juli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk saat ini, pasokan air bersih kami sediakan bagi warga yang mengajukan ke BPBD," katanya.

Salah satu desa yang mengalami krisis air bersih diantaranya warga Desa Ngelo Kulon Kecamatan Mijen. Warga di tempat ini sudah mengalami kekurangan air bersih sejak bulan Agustus.

Banyak sumur warga yang mengering. Warga juga belum pernah menerima bantuan air bersih dari pemerintah setempat. Untuk mendapatkan air bersih, biasanya warga membeli air dari pedagang keliling asal Jepara. Namun, akhir-akhir ini para penjual air keliling yang menjadi langganan juga mengalami kekurangan pasokan air.

Harga air bersih dari penjual keliling setiap jeriken sekitar Rp 2.500. Air bersih tersebut biasanya hanya digunakan untuk kebutuhan air minum dan memasak hingga 2 hari.

Saat ada bantuan air bersih untuk desa tersebut, ratusan warga terutama ibu-ibu langsung membawa banyak jeriken dan ember agar mendapatkan pasokan air bersih.

Kepala Desa Ngelo Kulon, Mad. Yasir menuturkan setiap musim kemarau datang, desanya selalu kekurangan air bersih. Selain mengering, sumur warga berasa asin.

"Kalau untuk dikonsumsi sangat tidak layak. Air sumur hanya bisa untuk keperluan mandi atau mencuci. Itu kalau tidak musim kemarau. Kalau kemarau lebih sulit cari air," katanya.

Ia menambahkan, tahun ini belum pernah mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah setempat. Di Desa Ngelo Kulon sendiri terdapat 1.500 kepala keluarga (KK) yang berdampak kekeringan ini.

Menurutnya bantuan air bersih tersebut sangat membantu warga. Sebab selama musim kemarau, pengeluaran rumah tangga lebih banyak digunakan untuk membeli air.

"Diperkirakan musim kemarau masih akan berlangsung sampai Oktober mendatang," kata Yasir. (Wikha Setiawan/bgs)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads