detikNews
Jumat 15 September 2017, 10:57 WIB

Barangkali BI Bisa Belajar Redenominasi Rupiah dari Pasar Sapi Ini

Bagus Kurniawan - detikNews
Barangkali BI Bisa Belajar Redenominasi Rupiah dari Pasar Sapi Ini Foto: Bagus Kurniawan/detikcom
Klaten - Jauh sebelum Bank Indonesia (BI) mengenalkan istilah redenominasi rupiah kepada masyarakat, para pedagang ternak di wilayah DIY dan Jawa Tengah sejak lama sudah menggunakannya.

Mereka tidak menyebut angka nominal jutaan dalam transaksi jual beli ternak. Namun cukup menyebut angka nominal ribuan untuk jutaan. Angka Rp 1 juta, cukup disebut Rp 1.000. Bahkan ada pedagang yang menyebut dengan angka 1 Gelo atau segelo dan 1 Ringgit atau seringgit.

Hal seperti itu sering dijumpai di pasar-pasar ternak seperti di Pasar sapi Prambanan, Klaten, Pasar sapi Ambarketawang, Gamping, Sleman, Pasar sapi Jatinom, Klaten dan Pasar sapi Pedan, Klaten.

Di pasar ternak itu, masih menggunakan hari pasaran berdasarkan penanggalan Jawa. Pasar sapi Prambanan misalnya hari pasaran jatuh hari Legi dan Pon. Pasar Ambarketawang hari pasaran Pahing. Pasar Jatinom hari pasaran Legi. Pasar Pedan hari pasaran Wage dan Pasar sapi Muntilan hari pasaran setiap Kliwon.

Seperti yang terjadi di Pasar sapi Prambanan Klaten, hari pasaran Kliwon jatuh pada hari Rabu (13/9/2017) kemarin. Ratusan pedagang sapi dari berbagai daerah di DIY dan Klaten Jawa Tengah berkumpul di hari pasaran tersebut. Ratusan sapi diperjual belikan di tempat itu.

Hal yang unik dan hampir terjadi di semua pasar ternak di DIY dan Jateng semua transaksi tidak ada sebutan angka jutaan. Untuk menyebut angka nominal Rp 1 juta, cukup disebut Rp 1.000 atau 'sewu'. Sedangkan uang recehan Rp 100, Rp 200 dan Rp 500 untuk menyebut Rp 100 ribu, Rp 200 ribu dan Rp 500 ribu.

Demikian pula dengan Rp 2 juta menjadi Rp 2.000 dan seterusnya. Adapula hitungan 1 Gelo atau segelo, itu sama dengan Rp 1. Angka segelo itu juga sama dengan Rp 1 juta. Kemudian 1 Ringgit untuk menyebut Rp 2,5. Satu ringgit sama dengan Rp 2,5 juta.

Selain itu ketika bertransaksi, untuk menandai barang yang dibeli sudah deal atau setuju dengan adanya uang pecahan logam. Bila pedagang menerima uang logam Rp 1.000 berarti sudah menerima uang panjar Rp 1 juta. Uang logam yang diberikan itu juga sebagai tanda pengikat transaksi.
Uang recehanUang recehan Foto: Bagus Kurniawan/detikcom


Dengan begitu sapi tersebut sudah boleh diperjualbelikan kembali di pasar atau langsung di bawa ke kendaraan pengangkut. Setelah itu baru dilakukan pelunasan termasuk mengurus surat-surat keterangan dari petugas pasar.

Adanya keping uang recehan itu, oleh pedagang lain yang membeli sapi sudah boleh ditawarkan atau dijual kepada orang lain. Bila laku terjual, mereka tinggal melunasi. Orang yang menjual sudah dapat selisih keuntungan.

Selain itu, ada juga orang yang bertindak sebagai penjual namun bukan pemilik. Mereka hanya menjualkan ternak milik orang lain. Dia yang akan membawa dan menawarkan sapi keliling pasar. Misalnya harga dari seorang pedagang Rp 15 juta, dia menawarkan menjadi Rp 17 juta. Bila laku, dia akan mendapatkan selisih penjualan tersebut.

"Hitungan di pasar sapi pakai ribuan bukan jutaan," ungkap Suprapto (55) seorang pedagang sapi asal Cawas, Klaten.

Dia mengaku tidak tahu persis hitungan seperti itu sejak kapan ada. Dia yang menjadi pedagang sapi sejak tahun 1990-an sudah menggunakan hitungan dengan angka ribuan. Menjadi seorang peternak dan pedagang sapi merupakan warisan orangtuanya.

"Semua pedagang sudah tahu dan hapal dengan hitungan seperti itu. Lebih gampang," katanya.
  • Barangkali BI Bisa Belajar Redenominasi Rupiah dari Pasar Sapi Ini
    Foto: Bagus Kurniawan/detikcom
  • Barangkali BI Bisa Belajar Redenominasi Rupiah dari Pasar Sapi Ini
    Foto: Bagus Kurniawan/detikcom
  • Barangkali BI Bisa Belajar Redenominasi Rupiah dari Pasar Sapi Ini
    Foto: Bagus Kurniawan/detikcom

(sip/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com