50 Hektar Tanaman Padi di Purworejo Terancam Gagal Panen

50 Hektar Tanaman Padi di Purworejo Terancam Gagal Panen

Rinto Heksantoro - detikNews
Senin, 11 Sep 2017 11:09 WIB
50 Hektar Tanaman Padi di Purworejo Terancam Gagal Panen
Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Purworejo - Sekitar 50 hektar tanaman padi di dua kecamatan di Purworejo Jawa Tengah, terancam gagal panen. Hal tersebut terjadi karena tidak adanya air yang mengairi sawah di wilayah tersebut.

Kekeringan yang melanda beberapa desa di Kecamatan Butuh dan Kecamatan Banyuurip mengakibatkan tanaman padi yang belum lama ditanam terancam mati. Selain itu, tanaman padi yang sudah mendekati panen terpaksa dipanen lebih dulu meski umurnya belum maksimal. saluran

"Kami tidak bisa berbuat banyak mas, saluran irigasi sudah kering. Air benar-benar berkurang dan tanahnya sampai retak-retak," kata Ropingi (43), warga Desa Tanjunganom, Kecamatan Banyuurip, Senin (11/9/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakan Ropingi, lebih dari dua bulan terakhir memang di wilayah itu tidak turun hujan. Sementara air irigasi yang pada bulan sebelumnya masih mencukupi ternyata sudah kering duluan. Tanaman padi tidak bisa tumbuh dengan baik.

"Mau mengairi tapi tidak ada air, semoga hujan cepat turun," lanjutnya.

Sementara itu Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Purworejo, Eko Anang SW langsung menindaklanjuti adanya keluhan warga tersebut. Didampingi penyuluh dan petugas kecamatan, Eko Anang menyaksikan hamparan padi yang tanahnya mengering itu.

"Sebenarnya petani sudah berupaya dengan cara melakukan pompanisasi atau mengambil air dengan cara menyedot air tanah dengan pompa, tapi ya memang airnya yang tidak mencukupi," jelas Eko Anang.
Lahan sawah retal-retak akibat kekurangan airLahan sawah retal-retak akibat kekurangan air Foto: Rinto Heksantoro/detikcom


Menurutnya sumber air yang diambil dari sungai sekitar sawah juga terbatas. Hal tersebut mengakibatkan tanaman padi tidak bisa diairi. Tanaman yang baru berumur di bawah 40 - 50 hari bisa mati atau puso.

"Yang terancam mati karena umurnya kurang dari 40 hari itu ada di Desa Tanjunganom Banyuurip sekitar 1 hektar dan Desa Kedungmulyo Kecamatan Butuh juga sekitar 1 hektar," imbuhnya.

Eko melanjutkan, untuk 50 hektar tanaman padi yang berada di Kecamatan butuh terpaksa harus dipanen lebih awal. Umur padi yang baru menginjak 80 hari itu terpaksa dipanen petani meskipun hasilnya tidak maksimal.

"Normalnya padi itu berumur kurang lebih 115 hari ketika dipanen sehingga hasilnya maskimal, namun karena kondisinya tidak memungkinkan, terpaksa dipanen lebih awal oleh petani," katanya.

Umur padi yang baru 80 hari tersebut kata dia, diperkirakan hanya bisa memperoleh hasil 60% saat dipanen. Namun petani terpaksa memilih hal itu ketimbang tidak mendapatkan hasil sama sekali. (bgs/bgs)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads