Tidak hanya masyarakat lokal yang ikut berebut gunungan. Tetapi juga turis asing yang sedang wisata di Yogyakarta. Bahkan ada yang membawa pulang ke negaranya.
Suasana Grebeg Besar, Keraton Yogyakarta. Foto: Edzan Raharjo |
"Ini sungguh indah, sangat spesial, di negara kami tidak ada seperti ini," kata Michelle di halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta, sambil menunjukkan bambu yang ia dapatkan, Sabtu (2/9/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kula ben tahun mriki, niki mangke dingge taneman kajenge lemu, subur, aman, boten kengeng omo(saya tiap tahun ke sini, ini untuk tanaman biar gemuk, subur, aman, tidak kena hama)," kata Nenek Darto.
Warga Yogya membawa pulang hasil rebutan Gunungan Grebeg Besar, Keraton Yogyakarta. Foto: Edzan Raharjo |
"Gunungan ini simbolisasi dari kemakmuran Yogyakarta karena semuanya dari hasil bumi. Makna lain, ini adalah sedekah Sultan (Raja) untuk mewujudkan manunggaling kawulo gusti yakni Gusti Allah dengan manusia dan rakyat dengan Sultan," kata Gusti Yodho usai memimpin prajurit.
Ketujuh gunungan atau parede yaitu terdiri atas gunungan kakung, puteri, gepak, darat, dan pawuhan. Lima di antaranya diarak ke Masjid Gedhe Kauman, sedangkan dua gunungan menuju Kepatihan dan Puro Pakualaman. Dalam setahun kraton Yogyakarta melaksanakan 3 kali tradisi Grebeg, yaitu Grebeg Syawal, Maulid dan Grebeg Besar. (sip/sip)












































Suasana Grebeg Besar, Keraton Yogyakarta. Foto: Edzan Raharjo
Warga Yogya membawa pulang hasil rebutan Gunungan Grebeg Besar, Keraton Yogyakarta. Foto: Edzan Raharjo