Pemerintah telah melakukan ground breaking pembangunan bandara di Kulon Progo. Pemerintah juga telah melakukan berbagai kajian mengenai potensi gempa dan tsunami di kawasan itu.
"Untuk tsunami sudah banyak dikaji," kata Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Jaya Murjaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkaitan dengan bandara di Kulonprogo, menurutnya pemerintah telah melakukan penelitian mikro zonasi. Selain itu pemerintah juga sudah memprediksi perkiraan kekuatan gempa yang berpotensi tsunami. Oleh karenanya pihaknya menjamin pembangunan NYIA, sudah didesain untuk menghadapi kemungkinan bencana.
Jaya menambahkan catatan sejarah mengenai peristiwa gempa bumi di wilayah Yogyakarta sangat minim. Sejarah gempa di Yogya yang paling memungkinkan diketahui adalah gempa tahun 1943.
Waktu itu gempa berkekuatan sekitar 8 skala richter mengguncang Yogya. Akibatnya bangunan di Yogya mengalami kerusakan cukup parah, dan memunculkan banyak korban.
"Dalam 100 tahun terakhir, kalau ditanya seberapa besar (potensi gempa) di selatan Jawa, itu (bisa dilihat) di tahun 1943 yang Ambarukmo dan Kota Yogya mengalami kerusakan cukup parah. Dikatakan kekuatannya 8,3 (SR), ada yang mengatakan 8,1 (SR)," kata Jaya.
Berdasarkan sejarah gempa tersebut, diprediksi wilayah DIY termasuk Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kulon Progo saat ini tak luput dari ancaman gempa. Namun pemerintah sudah melakukan sejumlah antisipasi. Berbagai opsi mitigasi bencana sudah disiapkan untuk bandara baru tersebut.
"Selatan Jawa itu memang daerah rawan gempa, daerah rawan tsunami, itu tidak bisa disangkal," kata Jaya.
Menurut dia, pemerintah sudah mengantisipasi semua. Sebenarnya antara peneliti dan lembaga pemerintah sudah ada kerjasama. "Sudah dimodelkan semua (opsi mitigasi di NYIA)," imbuhnya. (bgs/bgs)











































