Ini Syarat Menjadikan Sapi Pemakan Sampah untuk Sembelihan Kurban

ADVERTISEMENT

Ini Syarat Menjadikan Sapi Pemakan Sampah untuk Sembelihan Kurban

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Selasa, 29 Agu 2017 15:05 WIB
Sapi-sapi pemakan sampah di TPA Putri Cempo, Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Setiap harinya, ada ratusan sapi dibiarkan hidup memakan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Putri Cempo, Solo. Daging sapi tersebiut berbahaya dikonsumsi. Pemkot Surakarta menerapkan syarat khusus jika ingin menjadikan sapi-sapi tersebut sebagai sembelihan kurban.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta memperbolehkan masyarakat berkurban sapi pemakan sampah saat Idul Adha. Namun, ada syarat khusus agar daging sapi tersebut layak dikonsumsi. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Surakarta, Weni Ekayanti, mengatakan sapi pemakan sampah harus dikarantina minimal 6 bulan sebelum disembelih.

"Harus dikarantina paling tidak 6 bulan. Kalau untuk kurban sekarang, 6 bulan sebelumnya harus dipersiapkan untuk mengonsumsi hijau-hijauan, konsentrat dan tidak digembalakan di sampah lagi," kata Weni saat meninjau tempat penjualan hewan kurban di Mojosongo, Solo, Selasa (29/8/2017).

Ini Syarat Menjadikan Sapi Pemakan Sampah untuk Sembelihan KurbanRatusan sapi ini setiap hari hanya memakan sampah. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)

Di Solo, sapi-sapi pemakan sampah biasa digembalakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Mojosongo. Solo. Pemkot mengaku terus memantau peredaran sapi-sapi tersebut agar tidak dijual bebas.

"Harus ada surat (Surat Keterangan Kesehatan Hewan). Masyarakat yang ingin membeli sapi harus menanyakan apakah sudah punya surat atau belum. Masyarakat juga harus bisa membedakan, sapi makan sampah itu fesesnya lebih hitam dan baunya khas," ujar dia.

Terpisah, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Pranoto, telah meneliti kondisi sapi pemakan sampah di TPA Putri Cempo.

Daging sapi pemakan sampah dia uji cobakan dengan AAS (Atomic Absorbtion Spectophotometry). Hasilnya, kadar timbal pada daging sapi melebihi ambang batas.

"Kalau sapi pemakan sampah baru, kandungannya sampai 1,7 ppm (part per million). Kalau sampah lama bisa mencapai 17 ppm. Padahal dalam peraturan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) hanya 1,0 ppm," ungkap Pranoto.

Dampak bagi masyarakat yang mengonsumsi sapi pemakan sampah, yakni bisa menyebabkan sakit kepala, sakit perut, muntah, sulit konsentrasi dan yang paling parah bisa memicu kanker. (mbr/mbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT