Embun Es masih Ancam Petani Kentang Dieng

Embun Es masih Ancam Petani Kentang Dieng

Bagus Kurniawan - detikNews
Selasa, 22 Agu 2017 18:14 WIB
Embun Es masih Ancam Petani Kentang Dieng
Foto: Uje Hartono/detikcom
Banjarnegara - Meski sudah melewati puncak dingin di musim kemarau, petani kentang di dataran tinggi Dieng Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara masih was-was kemungkinan ancaman embun es. Saat ini suhu udara di kawasan Dieng masih berkisar 5-10 derajat Celcius

Salah satu petani kentang Desa Kepakisan Kecamatan Batur, Khamid Sobar mengatakan, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, embun es atau sering disebut bun upas terjadi antara Bulan Juli hingga Agustus. Namun, ancaman embun es tebal hingga saat ini belum terjadi.

"Akhir Bulan Juli 2017 lalu sempat ada bun upas. Tetapi kadarnya masih tipis, sehingga tidak sampai berdampak pada kerusakan tanaman," ujarnya, Selasa (22/8/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengatakan cuaca ekstrem berupa embun es bisa mengakibatkan tanaman kentang mati. Biasanya, saat malam hari embun yang ada di daun sudah membeku, ditambah pada siang hari terkena sinar matahari, maka daun-daun kentang langsung menguning.

"Kalau sedang ada bun upas ini, rumput-rumput pun mati. Diawali daun menguning karena tidak kuat dengan cuaca ekstrem," jelasnya.

Menurutnya, tanaman kentang yang banyak terkena embun es ini yang berada di tanah datar. Sedangkan tanaman yang di tebing justru terhindar dari dampak cuaca ekstrem berupa embun es tersebut.

Dia mengatakan saat musim kemarau seperti sekarang ini masalah yang terjadi adalah minimnya air untuk penyiraman. Untuk menyirami tanaman kentang harus berebut dengan petani lainnya agar tanaman kentang tetap bertahan hingga masa panen.

"Biasanya, petani butuh menyirami tanaman kentang antara 5-7 hari sekali," tuturnya.

Hal serupa juga Kepala Desa Dieng Kulon Slamet Budiono. Saat ini, petani kentang sudah mulai kesulitan air untuk menyirami tanaman. Saat ini ancaman hama juga lebih sedikit jika dibanding pada musim hujan.

"Kalau airnya cukup justru hasil panen kentang pada musim kemarau itu lebih bagus dibanding saat musim hujan," terangnya.

Slamet berharap agar tahun ini bisa terhindar dari ancaman cuaca ekstrem tersebut. Jika sampai Bulan September tidak muncul embus es, dapat dipastikan tanaman kentang aman.

"Biasanya embun es terjadi pada bulan Juli, Agustus sampai September. Puncak embun es itu terjadi di pertengahan Agustus. Tetapi sampai sekarang belum ada yang sampai berdampak pada tanaman," paparnya.

Dia menambahkan petani saat ini mengaku kesulitan bibit kentang. Hal ini disebabkan persediaan bibit kentang mulai langka. Minimnya stok bibit kentang selama 2 tahun terakhir ini akibat tidak ada kemarau. Padahal, untuk pembibitan akan bagus jika musim kemarau.

"Sebagian besar petani membeli bibit kentang dari Dieng saja. Tetapi sekarang stoknya terbatas," ungkapnya.

Petani kentang lainnya, Udin juga mengatakan saat ini sulit mencari bibit kentang. Akibat kelengkaan ini, terjadi kenaikan harga bibit kentang biasa maupun yang kualitas bagus.

Ia menyebutkan, untuk bibit kualitas sedang saat ini dijual dengan harga antara Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya dijual antara Rp 8 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram.

"Sedangkan untuk bibit dengan kualitas super bisa mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram," pungkas Udin.
(bgk/bgs)


Berita Terkait