"Kami menghormati tokoh-tokoh Pramuka dengan berziarah dan bersilaturahmi ke tokoh-tokoh Pramuka yang masih sugeng (hidup)," ujar Ketua Panitia Peringatan Hari Pramuka ke-56 Eddy Heri Suasana kepada detikcom, Senin (14/8/2017).
Ziarah dilakukan salah satunya di makam Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Imogiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengenang dan meneladani Sri Sultan HB IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia, pada peringatan Hari Pramuka ke-56 kali ini juga diadakan pagelaran wayang kulit dengan Lakon Banjaran Gatot Kaca. Pagelaran wayang ini digelar pada acara Janji Ulang Pramuka dan Sarasehan, Minggu (13/8) malam.
"Dahulu ada berbagai macam pandu, ada pandu Kebangsaan (salah satunya) yang kemudian dijadikan satu oleh Sri Sultan HB IX. Ibaratnya Gatot Kaca ketika dilahirkan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka, dengan berbagai pusaka dari kayangan, sehingga dijadikan Gatot Kaca (yang sakti mandraguna)," ulasnya.
Tak hanya itu, ziarah juga dilakukan di makam sesepuh Pramuka Koesnadi Harjsoemantri di makam Sawitsari UGM. Kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke makam Sri Paduka Paku Alam IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII di Astana Girigondo, Kulon Progo.
"Kita juga berziarah ke makam TMP Kusumanegara dan Taman Wijaya Brata, makam Ki Hajar Dewantara," imbuhnya.
Eddy menjelaskan, semua tokoh tersebut telah meletakkan Dasar Kepramukaan di antaranya pengembangan karakter kemandirian, nasionalisme, cinta alam dan kasih sayang.
Selain berziarah, Kwarda Pramuka DIY juga menemui tokoh-tokoh senior Pramuka di DIY.
"Kunjungan ini untuk menunjukkan bahwa kita sangat menghormati mereka. Kita memahami Pramuka sekarang ada, karena mereka ada. Dengan kita mengunjungi mereka, kita mendapat pengarahan. Kita bisa meminta nasihat untuk Pramuka saat ini," tutup Eddy. (sip/bgs)











































