Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, mengatakan silent majority atau kelompok masyarakat mayoritas yang bersikap diam justru menyebabkan radikalisme semakin subur. Akibatnya, kaum radikal bisa menguasai NKRI.
"Ketika kelompok radikal yang merasa benar sendiri itu menguasai Indonesia dan kita memilih diam, ini keliru. Kita semua punya saham atas negara ini, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Cina, Arab, Jawa, Sunda. Ini saham mau dirampok orang yang tidak punya jejak sejarah. Sekali kita diam, negara ini akan dirampas mereka," ungkapnya dalam acara bertajuk Merawat Indonesia di Solo, Kamis (10/8/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Paling-paling mereka itu ada 11 juta orang. Artinya masih ada ratusan juta orang mayoritas. Kalau mereka macam-macam, langsung saja kita lawan," ujarnya.
GP Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) mengaku sudah memulai perlawanan dan akan terus berjuang menegakkan NKRI.
"Karena kami cinta negara ini. Apapun kami pertaruhkan untuk negara ini. Kalau yang lain enggak mau silakan, kita siap berjuang sendiri. Karena apa, kita merasa di dalam pendiri bangsa ini ada kiai-kiai kami. Kami akan menjaga warisan kiai kami. Kalau bukan kita yang merawat warisan, siapa lagi," tegasnya.
Dalam acara tersebut hadir pula ulama-ulama dan tokoh lintas agama. Gus Yaqut mengimbau kepada tokoh-tokoh agama agar mengambil peran dalam menuntun jemaahnya ke jalan yang benar.
"Kiai-kiai hebat harus ambil panggung, sampaikan kepada umat mana yang memang benar dan mana yang salah. Pendeta, biksu, dan tokoh agama juga harus menuntun umatnya," ujar dia. (sip/sip)











































