"Kami menolak dengan tegas kebijakan itu," kata Ketua Tanfidziah PC NU Purworejo, H Achmad Hamid kepada detikcom di kantor PCNU Purworejo, Selasa (8/8/2017).
Dia mengatakan PCNU Purworejo telah menerima surat dari PWNU Jawa Tengah mengenai instruksi yang dikeluarkan pada tanggal 4 Agustus 2017 lalu. Pihaknya menyatakan tunduk pada keputusan yang diambil PWNU Jateng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya program lima hari sekolah ini dianggap sebagai bagian dari ghazwul fikr atau salah satu strategi untuk melumpuhkan umat muslim terutama NU untuk 15 - 20 tahun ke depan. "Ini harus dilawan," tegas Hamid.
Dia mengatakan dalam waktu dekat PC NU Purworejo akan melayangkan surat penolakan tersebut yang ditujukan untuk Bupati dan DPRD Purworejo. Sebagai bentuk penolakan itu, pihaknya juga berkeinginan menggelar aksi demo.
"Saat ini kami masih akan melakukan musyawarah dulu dengan para kiai seluruh Purworejo, apakah perlu demo atau tidak," lanjutnya.
Dukungan serupa dilakukan oleh H. Muhdi salah satu warga NU di Purworejo. Menurutnya bila PCNU Purworejo menyatakan menolak maka semua organisasi atau pengurus di bawah harus tunduknya.
"Semua lembaga di bawah NU, otomatis juga ikut menolak lima hari sekolah," tuturnya.
Menurutnya kebijakan lima hari sekolah itu dapat mematikan sekolah Islam di bawah NU. Padahal di Purworejo sendiri ada ratusan sekolah berbasis NU.
"Waktu untuk mengaji jelas tidak ada, kegiatan untuk peningkatan ilmu di bidang agama jadi sangat menurun," pungkas dia.
(bgs/bgs)










































