"Dunia Arab ini sedang berada di tingkat nadir peradaban. Semua kalah, itu tidak pernah stabil. Mereka (dunia Arab) pasti mudah kalah," ujarnya selepas tampil dalam dialog antartokoh agama dalam rangkaian acara Asian Youth Day ke-7, di Hotel Jayakarta, Jalan Laksda Adisucipto KM 8, Yogyakarta, Kamis (3/8/2017).
Wujud protes masyarakat Arab karena peradabannya kalah yakni munculnya Arab Spring yang melanda dunia Arab beberapa waktu lalu. Fenomena Arab Spring, menurut lelaki yang akrab disapa Buya tersebut, sebenarnya adalah wujud protes terhadap penguasa dan ulama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebabnya, lanjut Buya, karena dunia Arab mengalami kekalahan peradaban terlalu lama. Ujungnya kemudian muncul Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), yang menjadikan citra peradaban Islam semakin buruk.
"ISIS itu lebih banyak membunuh orang Islam. Islam apa itu?" tegasnya.
"Islam itu artinya damai, salam itu damai. Kalaupun kondisi umat Islam tidak damai, itu karena mereka mengkhianati ajaran Islam yang paling hakiki," lanjutnya.
Parahnya lagi keberadaan ISIS di dunia Arab, seakan ingin memonopoli kebenaran. Sehingga pihak-pihak yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka, walaupun mereka muslim tetap dimusuhi.
"Karena mereka (ISIS) punya teologi monopoli kebenaran. Sebenarnya mereka tidak mengerti Islam," tegasnya.
Caption: Buya Syafii Maarif saat berbicara dalam dialog antar tokoh agama di Hotel Jayakarta Yogyakarta, Kamis (3/8/2017). (mbr/mbr)











































