Sultan HB X di Penetapan Gubernur: Songsong 'Abad Samudra Hindia'

Edzan Raharjo - detikNews
Rabu, 02 Agu 2017 13:38 WIB
Sri Sultan Hamengkubuwono X saat membacakan visi dan misinya. Foto diambil dari layar yang disediakan di lobi DPRD DIY. Foto: Edzan Raharjo
Yogyakarta - Sri Sultan Hamengku Buwono X memaparkan visi dan misinya dalam rapat paripurna penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY. Visi misi ini dipaparkan dalam rapat paripurna di DPRD DIY hari ini.

Sri Sultan HB X memaparkan visi misinya sebagai Gubernur DIY untuk lima tahun mendatang (2017-2022). Visi misinya adalah Menyongsong "Abad Samudra Hindia" Untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja. Yogyakarta, kata Sultan, yang memiliki wilayah garis pantai sepanjang 126 KM, yang mencakup tiga wilayah kabupaten, tentu memilki posisi strategis dalam lalu lintas perekonomian di wilayah Samudera Hindia. Sultan HB X ingin mengembangkan Yogya bagian selatan. Apalagi kemiskinan di kawasan Yogya selatan masih tinggi.

Dia melanjutkan, angka kemiskinan di DIY masih tinggi terutama di kawasan Yogya selatan. Jumlah penduduk miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Maret 2017 adalah sekitar 488 ribu jiwa atau sekitar 13.02 per sen, masih cukup tinggi apabila dibanding dengan persentase penduduk miskin nasional sebesar 10.96 per sen (BPS DIY, 2017).

Kalau dilihat dari distribusinya, maka jumlah warga miskin di wilayah perdesaan (16.11 %) lebih besar daripada jumlah warga miskin di wilayah perkotaan (11.72 %).

"Kondisi yang memprihatinkan menunjukkan bahwa warga miskin di wilayah perdesaan masih terjerat sebagian besar pada persoalan penyediaan pangan berupa pengeluaran untuk pembelian beras (sebesar 33,08 %), sedangkan di wilayah perkotaan hanya menunjukkan angka sebesar 27.31 per sen," urainya.

Kesenjangan antara warga kaya dan warga miskin di DIY juga cukup tinggi yang ditunjukkan dengan angka Rasio Gini sebesar 0.432, tertinggi di Indonesia dan disusul Gorontalo sebesar 0.41. Kesenjangan di perkotaan lebih tinggi (0.435) dibanding kesenjangan yang terjadi di perdesaan (0.340).

Sementara indeks kedalaman kemiskinan di perdesaan (2.29) juga menunjukkan angka yang lebih tinggi daripada indeks kedalaman kemiskinan di perkotaan (2.15), yang berarti warga miskin perdesaan harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup dengan membayar pengeluaran konsumsi yang lebih besar daripada warga miskin perkotaan.

Sultan mengatakan bahwa tema "Abad Samudera Hindia", secara tegas meneguhkan kembali sumbu imajiner Gunung Merapi-Laut Kidul, yang memiliki makna dan ajaran harmoni kosmos, dalam pegertian bahwa bentang ruang wilayah Yogyakarta mulai dari Puncak Gunung Merapi di Sleman sampai ke Bibir Pantai dan Lidah Air Laut Kidul, merupakan suatu kesatuan bentang ruang ekologis, yang harus diperlakukan secara utuh, ibaratnya sebagai satu sosok tubuh manusia yang memiliki kepala, badan, dan kaki.

"Dalam konsepsi kosmos seperti itu, maka perlakuan pembangunan di wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta harus memiliki "tenggang ekologis" dengan wilayah Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo. Demikian pula sebaliknya, perlakuan pembangunan di wilayah Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo harus memiliki "rujuk ekologis" dengan wilayah Sleman dan Kota Yogyakarta," kata Sultan HB X.

Untuk itulah, lanjutnya, filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yang analog dengan konsep Sustainable Development, sangat relevan dan sangat diperlukan untuk Hamemayu Hayuning Ngayogyakarto Hadiningrat. Dalam konsepsi "tata air" dan "tata budaya sawah", maka
Gunung Merapi merupakan "sangkan" bagi "dumadi"-nya tata kehidupan hijau di bentang wilayah sampai ke wilayah daratan pesisir Laut Kidul. Dalam pesan filosofis "Sangkan Paraning Dumadi", jalinan antara Gunung Merapi dengan Laut Kidul mengajarkan tentang sejarah bentang ruang fisik Ngayogyakarta Hadiningrat, di mana Merapi dengan kapasitasnya yang melimpah
telah meyuburkan dan menghidupkan bentang ruang khususnya di wilayah Sleman, Yogyakarta, dan Bantul. (sip/sip)