Mereka menggalang solidaritas terhadap gerakan Selamatkan Slamet yang menolak proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) di lereng selatan Gunung Slamet.
Mereka bersepada dari Bandung pada Selasa (25/7/2017) sekitar pukul 7.30 WIB melalui jalur Selatan. Tiba di Kota Purwokerto pada Kamis (27/7/2017) sore sekitar pukul 15.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, selama perjalanan dari Bandung melalui Jalur Selatan Nagrek, beberapa kali mereka berhenti untuk beristirahat. Mereka berhenti dan berostirahat di Masjid. Selama dua hari perjalanan mereka tidur di masjid.
"Ada juga yang bertanya dan kita jelaskan, semakin menuju dekat jalan ke arah Gunung Slamet makin banyak orang yang tahu. Kalau di wilayah Jawa Barat masih banyak yang tidak tahu," katanya.
Menurutnya, selama perjalanan juga banyak yang memberikan jempol bahkan hingga meneriakkan 'semangat'. Dalam perjalan yang ditempuh dari Bandung menuju Purwokerto atau sekitar 175 kilometer, banyak berbagai kendala yang mereka temui. Selain jalur yang sulit dengan kontur jalan yang naik turun saat melewati jalur selatan.
"Penyangga atau standar sepeda rusak akibat tak kuiat menahan beban berat, rantai yang putus hingga terjatuh dari sepeda," katanya.
Sementara Garbi Cipta Perdana peserta yang lain menambahkan dirinya berharap aksi ini semakin banyak masyarakat yang bersimpati dengan apa yang terjadi di Gunung Slamet terutama berkaitan proyek pembangkit tenaga listrik.
Menurut Garbi yang juga mahasiswa Arkeologi Universitas Indonesia (UI) itu adanya penebangan hutan lindung membuat masyarakat di lereng Gunung Slamet terkena dampak. Akibat lingkungan dan ekosistem di kawasan Gunung Slamet menjadi rusak dan terganggung.
Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta untuk kembali mengkampanyekan 'Selamatkan Slamet'. Mereka memperkirakan dapat kembali ke Bandung dari Yogyakarta pada tanggal 7 Agustus 2017. (bgs/bgs)










































