"Saya daftar haji sejak 5 Januari 2011," ujar Yani saat ditemui di kediamannya di Kampung Karanganyar, Mergangsan, Selasa (25/7/2017).
Yani bercerita dirinya akan berangkat haji seorang diri, tidak ada anggota keluarga yang mendampingi. Suaminya, Kholid Moris sudah meninggal awal tahun 2011 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walaupun sudah ditinggal sang suami, tidak menyurutkan tekad Yani untuk menunaikan ibadah haji. Hasil jerih payahnya menabung, akhirnya cita-citanya tercapai untuk pergi ke tanah suci. Dia pun mantap berangkat haji sendiri tanpa didampingi sanak saudara. Pada awal bulan Agustus ini, dia akan berangkat bersama kloter jamaah haji DIY dari embarkasi Donohudan, Boyolali.
"Karena cita-cita orang yang beriman pasti ingin naik haji," ungkapnya.
Menurut ibu 5 anak dan 12 cucu ini, awalnya tidak mudah untuk mengumpulkan uang untuk berangkat ke Mekkah. Sedikit demi sedikit uang hasil jerih payahnya dikumpulkan. Tanpa disangka, ada saja uluran tangan baik dari pelanggan pijat maupun dari sanak saudara untuk membantunya.
"Kadang pelanggan tahu saya mau naik haji ngasih uang tambahan. Anak saya juga ada yang bantu, Rp 1 juta atau Rp 2 juta," katanya.
Sebagai tukang pijak, dia tidak pernah pasang tarif kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Sebelum menjadi tukang pijat bayi, dia adalah adalah tukang pijat umum dan turis di sekitar tempat tinggalnya yakni di kawasan Prawirotaman. Namun setelah usianya kian lanjut, 5 tahun terakhir ini lebih sering menjadi tukang pijat bayi.
Sebelum terdaftar sebagai calhaj, Yani mengaku banyak mengamalkan ajaran dari kakek-neneknya. Dia rutin membaca surah al-Ikhlas 2 ribu kali per hari, maupun dengan salat sunah lainnya. Salat taubat, hajat, maupun tahajud setiap hari dilakoninya
"Baca surat al-Ikhlas sehari 2 ribu kali, waktu senggang dibaca. Karena Allah adalah tempat meminta. Allah maha kuasa atas sesuatu, karena haji itu ibarat undangan khusus," paparnya.
Selain itu, amaliyah lainnya yang sering dilakukan tukang pijat ini seperti membaca surah ar-Rahman, al-Mulk dan al-Waqi'ah. Sebab Yani meyakini ayat-ayat al-Quran penuh dengan keajaiban. Sehingga sesuatu yang seakan tak mungkin, bisa saja terjadi bila Tuhan berkehendak.
Selain itu, dia juga sering berbagi dengan sesama yang diyakini akan memperlancar rezeki.
"Saya selalu menyempatkan bawa uang Rp 10-20 ribu di saku, nanti saya kasihkan ke orang yang tua-tua di pasar. Saya juga mudah terharu, pada anak yang jualan tempe di pasar, karena kasihan saya beli, meski terkadang saya pas gak butuh tempe," tutur dia.
Dia mengaku sejak awal tidak bercita-cita menjadi tukang pijat, tapi ingin menjadi seniman. Sebab itu dia pernah belajar di IKIP (sekarang UNY) mengambil jurusan seni rupa. Setelah lulus dan menikah, Yani hanya menjadi ibu rumah tangga dan sempat mengajar di sebuah TK.
"Saya kan dulu kuliah di IKIP Seni rupa, sekarang UNY. Di sana saya pernah belajar tentang anatomi tubuh. Dulu waktu kecil saya juga biasa diajari meramu minyak kayu putih, minyak adas buat pijat. Nah ilmu pijat dari ibu dan ilmu anatomi waktu kuliah saya padukan," imbuhnya.
Saat masih muda sehari Yani bisa memijat 10 orang dalam sehari, itu untuk pelanggan umum. Tapi sekarang dia hanya mampu memijat 5 orang per hari, itupun khusus bayi.
"Penghasilan per hari Rp 200 ribu. Tapi itu kalau ada yang pijat. Kalau pas gak ada yang pijat ya gak ada pemasukan," paparnya.
Menurutnya berbekal uang Rp 11.125.000 ribu di tangan, dia memberanikan mendaftar haji di tahun 2011. Sementara total pengeluarannya sebesar Rp 35,7 juta. Sementara sisa kekurangan uang tersebut dia lunasi tahun 2017 ini. (bgs/bgs)











































