Almarhum juga kakak dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Muhammad Busysro Muqoddas. Dia juga seorang dosen di sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta.
Sebelum meninggal almarhum mengaku kepada keluarga prihatin melihat kondisi bangsa saat ini. Terlebih mengenai kondisi kesenjangan ekonomi yang kian melebar serta mengkhawatirkan kondisi ukhuwah umat Islam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Busro, sejak ayah dari dulu memang aktif di PP Muhammadiyah. Di Muhammadiyah kemudian dilanjutkan oleh kakaknya Muhammad Muqoddas dan Busyro sendiri.
"Ya jadi, kakak kandung saya itu dengan kami sekeluarga memang merupakan penerus dari ayah kami, yang sejak dulu aktif di PP Muhammadiyah," ungkap Busyro.
Menurutnya, dia merupakan alumnus dari kader IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), yang mengalami proses berorganisasi secara runtut.
Selain itu, semasa hidupnya Muhammad Muqoddas juga aktif mengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
"Tugas pokoknya sebagai dosen IAIN sekarang UIN (Sunan Kalijaga). Itu yang menjadi inti dari kegiatan almarhum dalam hidupnya," ucapnya.
Busyro menambahkan Muhammad Muqoddas adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Sementara Busyro adalah anak keempat. "Kami 7 bersaudara, beliau (Muhammad) anak ketiga, saya anak keempat," tutupnya.
Sebelum dimakamkan di Makam Gambiran, Umbulharjo Yogyakarta ratusan pelayat silih berganti melakukan salat jenazah. Almarhum merupakan cucu pendiri Perguruan Silat Tapak Suci Putra Muhammadiyah. (bgs/bgs)











































