DetikNews
Senin 17 Juli 2017, 11:16 WIB

Belajar Pancasila dari Mahasiswa KKN UGM di Talaud, Sulut

Bagus Kurniawan - detikNews
Belajar Pancasila dari Mahasiswa KKN UGM di Talaud, Sulut Foto: Humas UGM/detikcom
Yogyakarta - Sebanyak 5.982 mahasiswa Unibersitas Gadjah Mada (UGM) mengikuti kegiatan KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) periode Antar Semester Tahun 2017. Mereka berasal dari 18 fakultas dan Sekolah Vokasi (SV) yang diterjunkan ke 115 kabupaten di 34 provinsi di Indonesia selama 2 bulan.

Melalui kegiatan yang diadakan setiap tahun ini, mahasiswa dapat menumbuhkembangkan empati dan kepedulian terhadap berbagai permasalahan yang riil dihadapi masyarakat. Mereka juga mendapat pengalaman berbeda yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Salah satunya yang dirasakan oleh mahasiswa yang menjalankan program KKN di Desa Dalum, Kecamatan Salibabu, Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.

Talaud adalah kabupaten paling utara di Indonesia dan merupakan salah satu pulau terluar dan jarang dikenal oleh masyarakat pada umumnya.

Untuk tiba di pulau ini, para mahasiswa harus menempuh perjalanan yang tidak sebentar. Berangkat dari Yogyakarta pada tanggal 13 Juni 2017 lalu, mereka baru sampai di lokasi KKN pada tanggal 17 Juni 2017.

"Dari Yogya ke Surabaya naik bus. Surabaya ke Manado naik pesawat, lalu dari Manado ke Talaud naik kapal laut selama 28 jam," kata Koordinator Tim KKN Talaud, Furqan.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Talaud, I Made Andi Arsana, PhD, mengisahkan pengalamannya ketika mengunjungi para mahasiswa di lokasi KKN Talaud di tengah suasana Ramadan.

Andi menuturkan, Desa Dalum yang menjadi lokasi KKN berpenduduk 100 % Nasrani, dengan nyanyian gereja berkumandang dari pengeras suara di hampir setiap rumah. Namun, di tengah daerah yang sangat homogen tersebut, ia mengaku justru merasakan suasana toleransi yang begitu kental.

Hal ini, menurutnya,tergambar dari momen-momen yang dikisahkan oleh para mahasiwa yang ia bimbing.

Seorang mahasiswa Fisipol, Fian M. Rofiulhaq mengisahkan pengalamannya bersama seorang mahasiswa Geografi tinggal di rumah induk semang yang masih muda. Sekitar jam 03.00 WITA, pada hari kedua saat mereka datang di bulan puasa, mahisiswa ini terjaga untuk menyiapkan sahur. Ketika dia menuju ke dapur, terdengar suara sedikit gaduh. Ternyata induk semang mereka tengah masak menyiapkan sahur untuk mereka.

"Sebagai anak kos, saya biasanya sahur dengan satu tahu bakso sisa semalam. Tapi di sini, hidangan sahur sangat lengkap dan itu disiapkan oleh induk semang kami yang tidak menjalankan ibadah puasa. Saya mau nangis rasanya," kisahnya.

Mahasiswa lain, Azis Musthofa mengungkapkan dirnyia seperti menemukan kembali momen masa kecilnya yang sempat hilang, yaitu pertemanannya dengan seorang sahabat yang berbeda kepercayaan.

"Kami biasa bermain bola dan ketika waktunya tiba, kami biasa saling antar untuk menjalankan ibadah. Ketika saya salat, teman saya menunggu saya di masjid dengan sabar. Sebaliknya, ketika di beribadah di Gereja, saya akan menunggunya sebelum bermain bola," ungkapnya.

Dia menemukan suasana seperti itu lagi di Talaud, dengan anak-anak kampung ini. "Saya seperti diingatkan tentang sebuah pelajaran penting, yakni toleransi. Saya bertekad, saya akan tetap menjaga sikap ini ketika sudah pulang nanti," ucapnya.

Andi menambahkan satu per satu mahasiswa ini mengungkapkan bagaimana mereka menyadari bahwa keberadaan mereka di Desa Dalum mengingatkan mereka bahwa Indonesia memang luas dan beragam. Adanya KKN ini membuatnya mencintai Indonesia lebih dari mereka pernah rasakan.

"Saya beruntung ada di sini. Saya ingin mengenal Indonesia lebih baik lagi. Jika Tuhan mengizinkan, saya juga ingin menjelajah dunia untuk menguatkan sikap hidup yang lebih terbuka," tutur mahasiswa lainnya, Ridho Ilahi.

Menurut Andi, momen inilah yang dengan tepat menggambarkan keindahan makna toleransi. Ia merasa bersyukur dapat menyaksikan bagaimana para mahasiswa ini sungguh-sungguh bisa menjiwai nilai tersebut.

"Mendengar mereka bercerita dengan semangat dan menjiwai, saya terbawa. Malam itu, saya merasakan perbedaan ketika kosakata seperti Pancasila, toleransi, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45 diucapkan dengan penuh perasaan. Kosakata itu berjiwa, dan memberi roh pada hastag media sosial yang viral berbunyi #SayaIndonesia atau #SayaPancasila," ujarnya.

Hal ini, lanjut Andi, mengingatkannya kepada sosok Koesnadi Hardjasoemantri, mantan Rektor UGM yang pada tahun 1950an menjadi salah satu mahasiswa KKN (waktu itu bernama Pengerahan Tenaga Mahasiswa) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Jika Koesnadi muda ketika itu berhasil menemukan anak desa cemerlang bernama Adrianus Mooy yang kemudian menjadi Gubernur Bank Indonesia, mahasiswa KKN Talaud menurutnya telah menemukah setitik wibawa Pancasila dalam wujud toleransi yang menyentuh hati.

"Jika masih ada yang bertanya pada saya untuk apa ber-KKN, maka saya dengan mantap bisa katakan, mempertahankan KKN adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah diambil oleh Universitas Gadjah Mada," pungkasnya.
(bgs/bgs)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed