Tapa Pepe, Cara Mengadu Kawula Yogyakarta kepada Raja

Bagus Kurniawan - detikNews
Senin, 17 Jul 2017 08:30 WIB
Foto: Usman Hadi
Yogyakarta - Pada pedagang dan pemilik kios di Jl Pasar Kembang. Kecamatan Gedong Tengen, Kota Yogyakarta telah digusur oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk pembangunan pedestrian atau pejalan kaki.

Penggusuran telah dilakukan sekitar 11 hari yang lalu. Puluhan kios bangunan yang ada di Jl Pasar Kembang di sisi utara dibongkar. Mereka sudah berjualan di kawasan itu sejak tahun 1970-an.

Setelah penggusuran tersebut, mereka belum mendapat solusi kongkret dari pemerintah. Banyak dari mereka yang kehilangan mata pencaharian dan menganggur. Namun ada pula yang kemudian berjualan di rumah atau tempat lain.

PT KAI melakukan penggusuran setelah mendapat surat kekancingan atas lahan Sultan Ground (SG) dari Keraton Yogyakarta. Sementara itu para pedagang rutin membayar retribusi yang ditarik oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta.

"Sekitar 25 pedagang yang memiliki Kartu Bukti Pedagang (KBP) dan rutin membayar retribusi," ungkap Kepala Departemen Advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Yogi Zul Fadhli.

Karena tidak ada solusi pasca penggusuran pada hari Minggu (16/7/2017) kemarin, para pedagang melakukan Tapa Pepe di Alun- Alun Utara Yogyakarta. Mereka mengadukan masalah itu kepada raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sebab keraton yang
telah mengeluarkan surat kekancingan kepada PT KAI.

Tapa pepe sendiri adalah bentuk kearifan lokal warga Yogya, cara rakyat kecil menyampaikan aspirasinya ke yang ada di kerajaan Mataram baik Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta.

Tapa pepe dulu dilakukan hingga zaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII atau pertengahan tahun 1900-an. Tapa pepe ini dengan maksud untuk mencari keadilan, mengadu agar mendapat perhatian dari Sultan.

Cara tapa pepe dilakukan dengan cara duduk bersila diantara dua buah pohon beringin kembar yang ada di Alun-alun Utara. Mereka menghadap ke selatan atau ke arah Pagelaran dan Siti Hinggil dengan mengenakan pakaian putih. Tapa pepe juga tidak dilakukan setiap hari tapi pada hari tertentu, saat Sultan duduk di singgasana di Siti Hinggil.

Menurut Yogi aksi tapa pepe ini sebagai bentuk protes karena keraton mengeluarkan surat kekancingan atas lahan Sultan Ground di selatan Stasiun Tugu di Jl Pasar Kembang untuk melakukan pembongkaran.

"Kami meminta Sultan HB X untuk mencabut surat kekancingan yang katanya dimiliki PT KAI," katanya.

Sementara itu PT KAI sudah sekitar satu tahun terakhir ini terus melakukan penataan di sisi selatan Stasiun Tugu Yogyakarta dari bagian barat hingga timur yang berbatasan dengan Jl Malioboro. Di sisi barat saat ini digunakan untuk menampung parkiran sepeda motor
dan mobil.

Di jalan depan pintu masuk selatan yang saat ini menjadi pintu keluar penumpang, kios-kios juga sudah dibongkar dan menjadi tempat pejalan kaki. Pembongkaran terakhir di sebelah timur hingga kios yang mepet di Jl Malioboro.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamngku Buwono X saat acara syawaln di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (12/7) lalu telah meminta maaf karena terpaksa menertibkan di Jl Pasar Kembang yang merupakan lahan Sultan Ground (SG). Penertiban itu dilakukan untuk mendukung
penataan Malioboro yang sudah berjalan dan dibangunnya bandara baru di Kulonprogo.

"Ya saya mohon maaf terpaksa menertibkan di Pasar Lembang. Karena tuntutan dengan adanya internasional airport kita harus konsisten, tidak bisa kita tidak akan berubah,"kata Sri Sultan HB X, pada acara syawalan di Balaikota Yogyakarta, Rabu(12/7/2017).

Untuk mendukung penataan tersebut dia meminta Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti untuk bisa menertibkan jalur-jalur atau sirip-sirip yang ke Malioboro. Jalur-jalur menuju Malioboro harus dibenahi jangan sampai kumuh atau semrawut.

"Kalau Malioboro bagus, tapi jalan-jalan yang lewat Malioboro kumuh, bagaimana itu. Saya minta jalur-jalur dibenahi," katanya. (bgs/bgs)