Sekelompok Warga Gelar Larung Bawono di Pantai Selatan Yogyakarta

Edzan Raharjo - detikNews
Minggu, 16 Jul 2017 15:06 WIB
Prosesi Larung Bawono dilakuka dengan melarung peti jenazah. Foto: Edzan Raharjo
Bantul - Sekelompok masyarakat Yogyakarta menggelar upacara Larung Bawono di pantai Parangkusumo Bantul, DIY. Dengan ritual ini mereka berharap Sri Sultan Hamengkubuwono X tak mengubah namanya.

Puluhan warga yang menamakan diri Paguyuban Rakyat Yogyakarta Istimewa terlibat dalam prosesi tersebut. Mereka melarung peti jenazah ke laut Parangkusumo, Minggu(16/7/2017).

Larung Bawono di Pantai Parangkusumo, Bantul.Larung Bawono di Pantai Parangkusumo, Bantul. Foto: Edzan Raharjo
Prosesi diawali dengan doa yang dilakukan di pendopo Cepuri, kemudian peti digotong menuju laut. Sejumlah warga membawa peti ke lautan dan bergumul dengan ombak laut. Beberapa kali peti nampak kembali ketepian, dan dicoba lagi dibawa ke tengah.

Korlap larung Bawono, Sriyadi menjelaskan peti tersebut berisi benda-benda yang merupakan simbol. Diantaranya Kuluk tiruan yang digunakan saat mengeluarkan Sabda Raja dan Dawuh Raja. Kemudian gedebog pisang yang dibungkus mori sebagai simbol jenazah. Mereka menolak perubahan nama Sultan dari Buwono menjadi Bawono karena tidak sesuai paugeran.
Mereka berharap Sri Sultan Hamengkubuwono tak mengubah namanya. Mereka berharap Sri Sultan Hamengkubuwono tak mengubah namanya. Foto: Edzan Raharjo
"Kami berharap beliau Sri Sultan Hamengku Buwono X mantab menggunakan nama dan gelar lengkap seperti semula. Yaitu nama dan gelar warisan para leluhur pendiri Kasultanan Mataram Islam," kata Sriyadi di pantai Parangkusumo, Bantul.

Mereka menganggap Bawono sudah tidak ada lagi dan meminta Sultan untuk tetap menggunakan nama Hamengku Buwono serta gelar seperti yang diwariskan leluhur Mataram.

Mereka berharap Yogyakarta tetap menjadi Kasultanan Mataram Islam sesuai seperti yang diwariskan para pendirinya.

"Kami menganggap Bawono telah meninggal. Maka Bawono, Dawuh Raja, Sabda Raja kami buang ke laut. Ke laut ini untuk membuang sial, kejahatan, dan membuang intrik-intrik apapun,"katanya.

Mereka juga menghendaki Sri Sultan HB X untuk shalat Jumat di Maghsuro Masjid Gede Keraton, taat UU keistimewaan, taat Paugeran Adat kasultanan Mataram Islam. (sip/sip)