"Ada beberapa kasus yang menonjol dan relatif penting. Seperti PPDB, khususnya dugaan manipulasi data zonasi jarak di Kabupaten Bantul. Dari awalnya 3 sekolah (SMP) sekarang menjadi 15 sekolah," ujar Kepala ORI Perwakilan DIY, Budhi Masthuri, Senin (10/7/2017).
Menurut Budhi, 15 SMP di Bantul tersebut mengalami problem yang sama, yakni persoalan inakurasi jarak surat keterangan yang dibuat pemerintah desa. Untuk itu tim ORI Perwakilan DIY bersama Disdikpora Bantul, hari ini diterjunkan buat memverifikasi sejumlah sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain PPDB, ORI Perwakilan DIY juga sedang melakukan sistemik review pelayanan parkir di Kota Yogyakarta. Lantaran banyak aduan diterima ORI, berkaitan dengan dugaan pungli petugas parkir.
"Kedua, kami sedang melakukan sistemik review terhadap layanan parkir di Kota Yogyakarta. Ini berkaitan pungutan parkir yang tidak sesuai (ketentuan). Nanti hasil dari sistemik review kami serahkan ke Pemkot Yogyakarta untuk menjadi acuan," selorohnya.
Tak hanya itu, Budhi mengaku pihaknya sekarang juga tengah melakukan investigasi. Terkait dugaan kebocoran distribusi tabung gas ukuran 3 kg, atau tabung gas melon di Gunungkidul. Diduga distribusi tabung gas di Gunungkidul tidak diberikan ke yang berhak.
"Kami juga sedang menginvestivigasi dugaan kebocoran distribusi tabung gas 3 kg di Gunungkidul. Karena banyak usaha seperti warung makan, peternakan di Gunungkidul menggunakan tabung gas 3 kg. Ini sedang kami susun laporannya," sebutnya.
Lalu juga ada kasus kisruh taksi online yang dihukum buka baju di Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta. Sekarang kasus tersebut masih ditangani ORI Perwakilan DIY. "Kasus taksi online sedang kami tangani. Sekarang kami masih menunggu klarifikasi AP I," sebutnya.
Kasus-kasus tersebut disebut Budhi adalah kasus menonjol yang sekarang ditangani ORI Perwakilan DIY, sebelum Kantor ORI diteror orang tak dikenal. Namun pihaknya tidak mau menduga-duga, dan menuduh pihak tertentu menjadi dalang pelemparan.
"Tahun ini ada 105 kasus yang kami tangani, itu kasus berdasarkan laporan dan informasi yang kami terima. Tapi semua kasus yang kami tangani pada dasarnya sama, bisa menyebabkan pihak tertentu tidak nyaman. Makanya kami tidak ingin menuduh pihak tertentu," lugasnya.
Kasus teror yang diterima ORI, sepenuhnya diserahkan ke pihak kepolisian. Cuma Budhi yakin kasus pelemparan tersebut disengaja, bukan dilakukan orang gila atau orang iseng yang kebetulan lewat. "Ini (pelemparan batu) bukan dilakukan orang gila, mereka jelas meneror," tuturnya.
Namun pihaknya menyadari teror yang diterima ORI Perwakilan DIY adalah resiko pekerjaan. Lantaran banyak pihak yang kasusnya ditangani lembaga ini. "Untuk antisipasi paling tingkat kewaspadaan kami tingkatkan. Ini resiko pekerjaan kami," tutupnya. (mbr/mbr)











































