Pemudik Lewat Tol, Omset Pedagang Batik Pekalongan Turun

Robby Bernardi - detikNews
Senin, 26 Jun 2017 20:43 WIB
Foto: Robby Bernardi/detikcom
Pekalongan - Para pemudik saat ini lebih banyak melewati jalan tol darurat daripada lewat jaluir Pantura. Akibatnya omset pedagang batik di Pekalongan, Jawa Tengah menurun.

Padahal pada tahun sebelumnya banyak pemudik yang mampir berbelanja di pasar grosir batik Setono di Pekalongan. Pasar tersebut terletak di jalur utama Pantura. Pasar grosir batik Setono selama dikenal pusat kain batik mulai dari harga belasan ribu hingga jutaan rupiah.

"Ya agak-agak ngeluh, tidak seperti tahun lalu. Ini penurunan sampai 50 persen karena mereka (pemudik) melewati tol," kata H. Rozakun (55), pedagang di Pasar Batik Setono.

Menurutnya, sepinya pemudik yang berkunjung ke pasar grosir Setono dirasakan sejak jal tol daurat dibuka. Oleh karena tidak banyak pemudik yang berbelanja, banyak pedagang yang menutup kios dagangan lebih awal. Pedagang berharap saat arus balik nanti banyak pemudik yang mampir ke pasar.

"Banyak yang tutup karena sepi, memilih lebaran di rumah ketimbang jualan," katanya.

Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya, Siti Maemunah (35), biasanya memasuki H-10 saja, para pemudik sudah berdatangan di pasar. Namun saat ini mulai berkurang drastis. Pada tahun lalu saat arus mudik omset pedagang rata-rata mencapai Rp 3 juta-5 juta/hari. Sedangkan omset saat arus balik bisa mencapai di atas Rp 5 juta/hari.

"Kemarin saat arus mudik tidak sampai segitu. Sekitar Rp 500 ribu-700 ribu. Itupun tidak setiap hari," kata Maemunah.

Sementara itu salah satu pemudik asal Cibinong Bogor, Udin (49) mengungkapkan dirinya sengaja melintas jalur Pantura agar buisa mampir ke Pasar Setono. Dia memilih keluar dari exit Bojong kemudian menuju ke arah jalur Pantura menuju pasar.

Meski di beberapa rest area ada pedagang yang menjual kain batik kata dia, harganya lebih berbeda jauh dan lebih mahal.

"Harganya lebih murah di pasar daripada yang dijual di beberapa rest area jalur tol darurat," katanya.


(bgs/bgs)