Gereja di Solo Meniadakan Kebaktian Saat Salat Idul Fitri

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Sabtu, 24 Jun 2017 14:02 WIB
Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo - Salat Idul Fitri 2017 pada hari Minggu, (25/6/2017). Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Solo meniadakan kebaktian pada hari Minggu karena waktunya bersamaan dengan salat Idul Fitri.

Di Solo, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan berdekatan Masjid Al-Hikmah, Jalan Gatot Subroto, Serengan, Solo. Letak gereja dan masjid yang berdampingan. Pelaksanaan salat idul fitri bersamaan dengan jadwal kebaktian gereja.

Sebagai bentuk toleransi, pihak gereja akan meniadakan jadwal ibadah di pagi hari. Pendeta GKJ Joyodiningratan, Nunung Istining Hyang, mengatakan jemaah gereja dapat mengikuti kebaktian pada jadwal selanjutnya.

"Hari Minggu itu ada empat kali kebaktian. Jemaah yang biasanya datang pagi bisa ikut yang selanjutnya," kata Nunung saat ditemui detikcom, Sabtu (24/6/2017).

Dia menceritakan, jatuhnya Idulfitri pada hari Minggu bukan kali pertama. Pernah saat itu keduanya menjalankan ibadah bersamaan. Gereja tetap menjalankan misa. Sedangkan masjid tetap melaksanakan salat idul fitri.

Namun hal tersebut ternyata membuat jemaah gereja merasa tidak enak hati. Sebab untuk memasuki gereja, jemaah harus melewati ratusan peserta salat id yang meluber ke jalan. Mereka khawatir bakal mengganggu kekhusyukan ibadah umat Islam.

"Sebenarnya bisa saja tetap diadakan. Jemaah masuk pelan-pelan lewat pintu selatan. Tapi memang kita putuskan untuk tidak diadakan sebagai bentuk toleransi," ujarnya.

Sementara, Ketua Takmir Masjid Al Hikmah, Muhamad Nasir Abu Bakar, menyambut baik rencana gereja tersebut. Hal tersebut memang telah dikomunikasikan antara keduanya.

"Kita sudah menerima surat pemberitahuan itu. Pengurus masjid menyambut baik kebijakan gereja. Kita berharap toleransi semacam ini juga terjadi di seluruh Indonesia," ungkapnya.

GKJ Joyodiningratan dibangun lebih dahulu pada 1939. Tanah gereja tersebut dibeli dari seorang Muslim. Disyaratkan, gereja harus menyisihkan sebagian tanahnya digunakan sebagai musala. Musala itu kemudian berkembang menjadi masjid.

Hal itulah yang menyebabkan dua bangunan, masjid dan gereja memiliki satu alamat yang sama, yakni Jalan Gatot Subroto no 222, Solo. (bgs/bgs)