Lebih dari 50 anggota Kepala Keluarga (KK) mengeluhkan ciri-ciri seperti keracunan makanan meliputi mual, muntah, diare, dan kepala pusing sehingga membutuhkan penanganan medis.
Ketua RT 01/9 Blok A, Mulyono, mengakui mendapat banyak keluhan dari warga di lingkungannya. Mereka mengaku terserang diare dan mual, muntah secara bersamaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini dugaan sementara, keterangan dari warga yang mengalami keracunan akibat mengkonsumsi nasi kotak dan ponggol," jelasnya.
Keluhan serupa disampaikan Tanti (32), warga penghuni Blok C no 209 yang mengalami mual, muntah, hingga diare berulang kali sejak Senin (19/6) dini hari. Sebab, sejak berbuka hingga makan sahur ia mengaku hanya mengkonsumsi nasi kotak yang dibagikan pengelola Rusunawa dengan menukar kupon dan undangan.
"Tekstur ayam bakarnya waktu dimakan sudah agak lengket tapi gak tahu kalau tidak layak konsumsi jadi ya dimakan saja," jelasnya.
Ketua RW 9, Agung Subekti, membenarkan banyaknya warga penghuni Rusunawa yang diindikasi mengalami keracunan massal. Bahkan, keracunan massal menimpa pada warga Rusunawa dari mulai lansia, dewasa, remaja, anak-anak hingga balita. Mereka terkena imbas setelah mengkonsumsi nasi kotak dan ponggol.
"Kami berharap ada pertanggungjawaban dari pihak terkait hingga tuntas atas keracunan massal ini," katanya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Tegal Barat Bambang Kuswantoro menambahkan, ada puluhan pasien yang berobat langsung ke Puskesmas sejak Senin (19/6) pagi dengan ciri-ciri keracunan. Sehingga, agar lebih memudahkan pelayanan, pihaknya mengirimkan lima personel untuk memeriksa kondisi kesehatan warga Rusunawa di lantai dasar sejak pukul 09.30 WIB hingga selesai.
"Informasi sementara, puluhan warga sudah dicek kondisi kesehatannya. Bahkan, ada warga yang harus dirawat intensif di Puskesmas Tegal Barat karena kondisinya lemah," ujarnya.
Terkait penanganan medis, lanjut Bambang, pihaknya sudah melakukan penanganan dini meliputi pemeriksaan kondisi fisik, pemberian oralit, pengambilan sampel makanan untuk di uji lab, serta menggali informasi terkait keluhan dan penyebab terjadinya keracunan massal tersebut. (sip/sip)











































