Hadapi Lebaran, Produsen Telur Asin di Brebes Naikkan Produksi

Imam Suripto - detikNews
Selasa, 13 Jun 2017 18:15 WIB
Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes - Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merupakan sentra industri telur asin. Setiap lebaran permintaan telur asin sebagai oleh-oleh khas Brebes selalu meningkat. Para produsen telur asin mulai meningkatkan jumlah produksi untuk menghadapi arus mudik dan arus balik lebaran.

Untuk meningkatkan produksi, para produsen telur asin terpaksa mengambil telur itik dari luar kota seperti Tegal, Pemalang dan Blitar Jawa Timur. Telur itik yang ada di Brebes hanya mampu memenuhi sekitar 50 persen kebutuhan yang ada.

Diperkirakan, kebutuhan telur itik pada lebaran tahun ini mencapai 10 juta butir, atau naik tiga kali lipat bila dibandingkan hari-hari biasa. Saat ini lonjakan permintaan telur itik sudah mulai terjadi, karena proses pengasinan membutuhkan waktu sedikitnya 12 sampai 15 hari.

Saat ini tingginya kebutuhan telur itik belum diimbangi dengan peningkatan produksi telur dari peternak. Rata- rata, produksi telur itik di Brebes hanya sekitar 4,88 juta butir per bulan. Telur itu diperoleh dari sekitar 325 orang orang peternak yang tersebar di sepanjang wilayah Pantura.

Komarudin (48), salah satu perajin telur asin asal Desa Pesantunan, Wanasari Brebes mengungkapkan permintaan telur asin pada musim lebaran selalu terjadi setiap tahun. Namun pasokan telur itik dari sejumlah peternak masih kurang, karena populasi itik masih terbatas. Para produsen telur asin harus mengambil telur itik dari luar kota yakni Blitar, Jawa Timur.

Menurut dia para produsen telur asin sudah mulai melakukan pengasinan sejak 10 hari lalu. Pengasinan ini dilakukan secara bertahap.

Pada tahap awal atau untuk arus mudik ini, dia telah menyimpan sekitar 30 ribu butir telur itik. Sementara pengasinan untuk arus balik juga telah menyiapkan sebanyak 30 ribu.

"Telur itik saya ambil dari Blitar. Separuh dari Blitar, Jawa Timur dan separuhnya lagi dari peternak lokal. Kalau mengandalkan peternak lokal jelas tidak cukup," ungkap pemiilik toko oleh oleh HTM Jaya, Selasa (13/6/2017) siang.

Hal serupa juga dilakukan oleh Asmui (60), perajin telur asin asal Kelurahan Gandasuli, Brebes. Meski tergolong perajin skala kecil, namun dia sudah menyiapkan 20 ribu butir telur. Padahal pada hari biasa, Asmui hanya memproduksi 500 butir setiap hari.

Untuk mendapatkan bahan baku telur dari peternak, Asmui menggunakan sistim ijon. Caranya dia memberikan bantuan modal bagi peternak. Saat panen, telur itik harus dijual atau disetorkan kepada yang memberi modal.

Saat ini Asmui mengijon kepada 7 peternak dengan nilai bantuan modal mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 5 jutaan. Dengan cara sistem ijon, yakni memberikan modal ke peternak, mereka tidak akan menjual telurnya ke orang lain.

"Mereka tidak berani menjual ke orang lain, karena sudah menerima modal dari kita," terang Asmui.




(bgs/bgs)