Tiba di lapangan, mereka duduk bersila di belakang meja dan mulai membuka kitab suci. Lantunan ayat-ayat suci yang diucapkan ustaz, memimpin para santri untuk mulai bertadarus.
Santri di Solo bertadarus di alam terbuka. Foto: Bayu Ardi Isnanto |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika kita di alam terbuka itu akan terasa kecil sekali bila dibandingkan alam semesta. Kita akan merasa butuh Allah, butuh pertolongan Allah. Sehingga dengan membaca Alquran ini semoga mendapat petunjuk," kata Ketua Yayasan Baitul Musthofa, Singgih Subiarso.
Tradisi tersebut telah berjalan sejak lima tahun yang lalu. Kegiatan itu juga mengingatkan ketika pondok pesantren mulai didirikan pada 2005. Saat itu belum ada perkampungan di lokasi tersebut, melainkan hutan.
Singgih menuturkan, para ustaz di pondok pesantren tersebut selalu mengajarkan Islam kepada santri dengan pendekatan budaya. Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga menjadi panutan dalam menyiarkan ajaran Nabi Muhammad.
Melalui pendekatan budaya, diharapkan para santri mampu menerapkan Islam tanpa melepaskan budaya lokal.
"Kondisi Republik saat ini memprihatinkan. Mudah-mudahan dengan anak-anak yang berkegiatan seperti ini, nantinya lebih bisa bersosialisasi. Semoga bisa saling menghormati di Republik ini, dengan keanekaragamannya, sehingga bisa menjaga persatuan," tutupnya. (sip/sip)












































Santri di Solo bertadarus di alam terbuka. Foto: Bayu Ardi Isnanto